Bijak Menggunakan Smartphone untuk Anak

Bijak Menggunakan Smartphone untuk Anak

Pekan lalu saya dan istri baru saja selesai melakukan kontrol rutin bulanan untuk mengetahui perkembangan calon anak kami. Sambil mengarah pulang kami mampir sebentar untuk membeli beberapa dus donat untuk bahan cemilan di rumah. Tapi berhubung mulai agak lapar, kami memutuskan untuk ngemil dan minum-minum sebentar di sana.

Selesai memesan, kami memilih tempat duduk agak ke arah belakang restoran dekat dengan pintu kaca. Di sebelah saya, dua orang anak dengan usia sekitar 4 – 6 tahun sedang asik dengan smartphone mereka. Sibuk dan fokus sekali sepertinya. Mereka bermain smartphone sembari tidur-tiduran di atas sofa. Beberapa lama, saya masih belum melihat kemana orang tua mereka.

Ternyata istri saya pun memperhatikan kedua anak itu yang ternyata orang tuanya adalah karyawan di restoran tersebut. Mungkin managernya karena sang ibu pun sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya di luar sana.

Sebagai calon orang tua, saya agak khawatir melihat kedua anak tersebut. Meskipun belum tahu persis dampak apa yang akan mereka alami akibat penggunaan smartphone, tapi saya yakin betul bahwa bermain smartphone sambil tiduran dan dengan jarak yang sangat dekat dapat menyebabkan kerusakan mata.

Mulailah saya mencari tahu, apa yang membuat para orang tua dengan mudahnya memberikan smartphone kepada anak-anak mereka dan sering kali membiarkannya begitu saja tanpa pengawasan.

Ternyata hampir sebagian besar dari orang tua mengizinkan anak-anak mereka bahkan mulai usia 6 bulan – 4 tahun bermain smartphone agar mereka bisa dengan tenang menyelesaikan pekerjaan mereka tanpa diributkan anak-anak yang rewel.

Sebagian lagi melakukan hal yang sama untuk menenangkan anak mereka di tempat umum. Bahkan tak jarang orang tua memberikan anak mereka bermain smartphone menjelang tidur yang jelas-jelas hal tersebut dapat membuat mata menjadi rusak dan menyebabkan gangguan tidur.

Dampak dari penggunaan smartphone yang berlebihan sangat bermacam-macam, mulai dari yang ringan hingga berat.

Dampak yang mungkin terbilang ringan seperti membuat mata kering, penglihatan yang terganggu, nyeri bahu, sakit leher dan nyeri pada jari dan pergelangan tangan.

Sementara dampak berat akibat penggunaan smartphone yang berlebihan adalah kecanduan hingga gangguan mental seperti depresi, mudah cemas, sulit fokus, impulsif, bipolar dan lainnya.

Kondisi kecanduan smartphone dikenal sebagai SDD (Screen Dependency Disorder) yang juga termasuk ke dalam gejala ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) yang mana merupakan gangguan mental yang menyebabkan seorang anak mengalami kesulitan untuk memusatkan perhatian.

Bayangkan, sejak usia 6 bulan anak sudah dikenalkan kepada gadget. Mungkin tujuan awal orang tua adalah untuk membuat anak lebih tenang dengan berbagai macam video dari youtube sekaligus untuk belajar. Sayangnya mereka lupa bahwa ada batasan maksimal yang seharusnya mereka jaga agar sang anak tidak semakin kecanduan seiring bertambahnya usia.

Bahkan berdasarkan artikel yang saya dapatkan dari Halodoc, diinformasikan bahwa sejak tahun 2016 RSJ Cisarua, Jawa Barat, sudah menangani hingga ratusan ratusan anak setiap bulannya yang mengalami kecanduan smartphone.

Waw.. Bisa dibayangkan, hanya karena keegoisan orang tua yang tidak mau dipusingkan dengan tingkah polah anak lalu membiarkan anak mereka bermain gadget sejak usia dini hingga akhirnya menyebabkan sang anak kecanduan dan mengalami gangguan mental.

Parahnya lagi, sebagian dari mereka masih menyalahkan sang anak yang sulit diatur. Padahal jika mereka mau berpikir, kesalahan awal ada pada mereka sendiri.

Lantas bagaimana cara mengatasi anak yang mulai kecanduan bermain smartphone? Berikut langkah yang dapat orang tua ambil :

Membatasi penggunaan smartphone

Para orang tua baiknya membatasi penggunaan smartphone pada anak sesuai dengan rekomendasi usianya agar anak tidak kecanduan. Paling maksimal penggunaan smartphone dalam sehari adalah 2 jam. Itu pun harus dengan pengawasan agar anak tidak mengakses konten yang tidak sesuai usianya.

Usahakan juga agar anak menggunakannya dalam posisi yang benar, yaitu duduk dengan jarak pada mata minimal 30 cm. Akan lebih baik lagi jika anak diberikan kacamata anti radiasi untuk menjaga kesehatan matanya.

Berikut pedoman screen time pada anak  dari The American Academy of Pediatrics :

  • Anak berusia kurang dari 2 tahun : Tidak dibiarkan bermain gadget sendirian termasuk TV, smartphone, tablet.
  • Anak usia 2 – 4 tahun : kurang dari 60 menit dalam sehari
  • Anak usia 5 tahun ke atas : tidak lebih dari dua jam sehari

Berikan jadwal penggunaan smartphone

Sejak kecil sebaiknya orang tua sudah memberikan jadwal kapan si kecil bisa bermain smartphone agar anak terbiasa disiplin dan tidak membuatnya ketergantungan.

Seperti yang dilakukan oleh kakak ipar saya, dia menjadwalkan anaknya bermain smartphone hanya 60 menit per hari, yaitu 30 menit di pagi hari dan 30 menit di sore hari serta mewajibkan anaknya untuk menggunakan kacamata anti radiasi.

Tentunya orang tua perlu bersikap tegas dalam hal ini. Tidak mudah goyah ketika anak merengek-rengek bahkan di dapan umum ketika meminta smartphone. Ini bertujuan agar anak lebih disiplin dan tidak menggunakan air mata sebagai senjata.

Tetapkan wilayah-wilayah bebas smartphone / gadget

Karena sudah dijadwalakn dan berada dalam pengawasan, biasanya anak akan bermain smartphone di tempat yang sudah ditentukan orang tuanya. Tapi ada baiknya jika orang tua mengomunikasikannya lagi kepada anak di mana dia dapat bermain dengan smartphonenya dan di mana dia harus menyimpan smartphonenya. Contoh, ketika di kamar anak tidak diperbolehkan bermain smartphone karena kamar adalah tempat beristirahat dan harus menggunakan waktu istirahat dengan baik.

Buat aktivitas menyenangkan bersama anak

Sebagai orang tua, pandai-pandailah dalam mencarikan aktivitas yang menyenangkan yang bisa dilakukan bersama anak seperti memasak bersama, bersepeda atau bermain game yang dapat melatih ketangkasannya.

Gunakanlah informasi dari internet untuk mencari aktivitas apalagi yang bisa dilakukan bersama anak agar anak teralihkan pikirannya dari gadget terutama smartphone.

Berikan informasi yang jelas mengenai bahaya penggunaan smartphone yang berlebihan

Meskipun masih kecil, anak biasanya sudah paham ketika diajak berbicara dan berkomunikasi dengan baik. Informasikan kepada anak mengapa mereka dibatasi menggunakan smartphone dengan menjelaskan dampak-dampaknya agar anak lebih bisa menerima.

Menjadi contoh yang baik bagi anak

Sering dengarkan bahwa anak adalah peniru yang baik? Maka sejak anak masih balita usahakan agar kita sebagai orang tua tidak banyak menggunakan smartphone di depan mereka. Bahkan jika memang bisa, jauhkanlah smartphone dari hadapan mereka dan mulailah membaca buku atau mengaji agar anak bisa meniru kebiasaan baik yang sering mereka lihat orang tua mereka.

Konsultasikan dengan dokter

Jika ternyata orang tua sudah terlanjur membiasakan anak bermain smartphone dan mulai menunjukkan gejala kecanduan, maka segeralah berkonsultasi dengan dokter. Tidak perlu repot-repot ke rumah sakit dan mengantre. Kita bisa berkonsultasi dengan dokter dengan mudah melalui aplikasi Halodoc yang sudah terpercaya. Pilihan konsultasi pun bisa dengan chat bahkan bisa juga dengan Videocall agar lebih puas berkonsultasi. Biayanya pun jauh lebih murah jika dibandingkan harus ke rumah sakit. Melalui aplikasi Halodoc, kita juga bisa mendapatkan resep obat dari dokter yang kita pilih dan diantar menggunakan jasa kurir online.

Tak ada salahnya memang mengenalkan anak kepada gadget karena nantinya anak-anak itu juga akan hidup pada zaman yang mengharuskan mereka melek teknologi. Tapi baiknya penggunakan gadget terutama smartphone harus dibatasi atas tidak menjadi boomerang yang dapat merugikan orang tua dan tentunya anak itu sendiri.

Bijaklah menjadi orang tua dan bijaklah menggunakan gadget.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.