Bagaimana Menjaga Kesehatan Mental Untuk Fresh Graduate

Bagaimana Menjaga Kesehatan Mental Untuk Fresh Graduate

Bagi mahasiswa semester akhir yang baru saja menyelesaikan pertarungan dengan dosen pembimbing dan penguji saat sidang akhir, sebenarnya bagi mereka kehidupan sebenarnya baru saja dimulai. Karena pada fase ini, mereka harus memikirkan perjalanan karir seperti apa yang harus mereka pilih. Nah pada kali ini, saya akan sharing mengenai pengalaman saya bagaimana menjaga kesehatan mental untuk fresh graduate khususnya dalam memilih karir profesional.

Di akhir tahun 2014, tepatnya di bulan Oktober saya telah menyelesaikan studi tingkat Sarjana. Jujur saja, pada periode itu tidak ada banyak harapan yang saya miliki tentang karir profesional seperti apa yang harus saya jalani.

Yang saya pahami ketika itu hanya satu, buat CV (Curriculum Vitae) alias Riwayat Hidup sebagus mungkin, dengan template yang bisa dengan mudah di download via search engine. Dan buat CV menjadi terlihat sangat profesional, dengan berbagai macam kompetensi yang dimiliki.

Tentu kompetensi disini berkaitan dengan pelatihan baik formal dan informal yang telah saya miliki selama saya menjalani dunia perkuliahan.

Oh ya, semasa kuliah, saya memang sudah mengerti bahwa harus menjadi mahasiswa aktif untuk mengembangkan kompetensi terutama interpersonal skill. Seperti komunikasi, leadership, management. Standar lah.

Jadi hal tersebut membuat saya paham, bahwa saya harus banyak mengikuti kegiatan yang ada di Kampus, yang mungkin diselenggarakan oleh Kesenatan dan juga Unit Kegiatan Mahasiswa(UKM).

Dari situ membuat saya pun memutuskan untuk mengikuti UKM Resimen Mahasiswa dan Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer.

Dan tentu saja, dengan menjadi bagian dari dua organisasi mahasiswa itu, banyak sekali pelatihan, kesempatan terhubung dengan orang banyak serta pengalaman yang diberikan untuk memimpin beberapa kegiatan yang terbilang cukup besar.

Nah, balik lagi pada masa dimana saya harus memulai karir.

Jadi dengan pengalaman organisasi yang begitu banyak, dengan percaya diri saya pun menuliskan banyak pencapaian kedalam selembar CV.

Tidak hanya terkait kesempatan memimpin kegiatan, pelatihan kepemimpinan, pelatihan terkait menyelam pun saya masukkan kedalam CV, yang saya buat untuk melamar pada posisi Staff terminal tempat saya bekerja untuk pertama kalinya tersebut.

Nah jelas saja, muncul pertanyaan dari tim penguji, apa alasan saya melampirkan kompetensi diluar job desc yang saya lamar pada saat itu.

Dari pengalaman itu, saya pun menarik beberapa kesimpulan terkait hal yang perlu disiapkan oleh para fresh graduate untuk memulai karir profesional.

Mempersiapkan Kompetensi

Untuk memiliki karir profesional, tentu saja kamu harus memiliki value yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan atau kantor yang kamu targetkan. Disini saya tidak akan membahas bagimana jika background pendidikan tidak sesuai passion kamu ya.

Tapi mari kita permudah dulu saja.

Jika kamu seorang Sarjana Teknik Informatika, atau Sarjana Komputer, hal yang perlu kamu siapkan tentu saja terkait dengan kompetensi yang menjadi peminatan kamu.

Karena kita sama-sama orang Ayti, yang bisa saya sampaikan. Jika kamu orang yang passion dengan coding, minimal kuasai bahasa pemrograman yang saat ini paling menjadi tren, misalnya saja Python. Dan selain bahasa pemrogramannya, coba buat juga project sederhana yang bisa nanti kamu ceritakan tidak hanya dengan orang lain, tapi juga penguji tempat kamu bekerja.

Di lingkungan Ayti, pengetahuan pemrograman diukur dari sejauh mana pengetahuan, pemahaman dan kreativitas yang dimiliki untuk digunakan memecahkan masalah. Minimal coba tunjukkan, sejauh mana sih pemahaman kamu dengan bahasa pemrograman, dan implementasi apa yang sudah kamu buat.

Bagi yang belajar Python, mungkin coba buat project sederhana terkait Deep learning untuk object detection.

Tentu saja, hal itu berlaku juga bagi mereka dari jurusan lain.

Jangan hanya mengandalkan ijazah Sarjana yang menjadi andalan kamu. Di era 4.0 (Four Point O), menurut saya, Ijazah hanya menunjukkan kamu punya pengetahuan dasar. Tapi pertanyaan berikutnya, apakah kamu punya pengetahuan mendalam? Pertanyaan itu tentu saja bisa dijawab jika kamu punya sesuatu hal yang bisa ditunjukkan.

Contoh lain bagi lulusan Ayti yang passion ke Graphic Desain, mungkin penguji hanya butuh diberikan contoh karya apa sih yang sudah pernah kamu buat. Kalau perlu, gunakan performance matrix yang ada di media sosial, seperti berapa jumlah impression, viewer bahkan komentar yang kamu peroleh dari Karya yang kamu miliki.

Menentukan Awal Karir Profesional

Setelah kamu memutuskan untuk fokus kepada satu bidang peminatan dan mempersiapkan kompetensi. Langkah berikutnya adalah bidang Industri mana yang akan menjadi pilihan kamu untuk memulai karir.

Bisa dari Perbankan, Oil & Gas, Finance, Pendidikan, Konstruksi, dan masih banyak lagi.

Setelah menentukan bidang industri, coba lihat dulu perusahaan yang sesuai dengan peminatan kamu. Dan jangan lupa, lakukan riset seperti apa fasilitas yang diberikan perusahaan itu kepada karyawannya. Website seperti Glassdorr dan Qerja, mungkin bisa menjadi referensi untuk melihat seperti apa kondisi yang ada di perusahaan tersebut.

Bukan hanya soal lingkungan kerja, tapi juga tunjangan, kesempatan karir dan hal-hal lain yang mungkin tidak bisa kamu lihat dengan mudah kalau bukan dari orang dalam yang bercerita.

Jangan lupa, minimal pilihlah setidaknya 15 – 20 perusahaan yang menjadi target incaranmu. Utamanya adalah perusahaan yang memiliki lokasi kerja yang terjangkau buat kamu. Tapi buat kamu para bujangan tangguh, memilih lokasi nan jauh dimato, bisa menjadi nilai lebih lho buat kamu nantinya.

Kalau sudah ketemu Industrinya, perusahaannya, sekarang kita lanjut tentukan dulu jabatan apa yang menjadi target awal karir profesional kamu.

Nah disini sering kali kita seperti tidak ingin dianggap remeh. Atau terkadang terlalu berekspektasi tinggi.

Maksudnya begini, kamu harus paham posisi karir seperti apa yang akan kamu ambil untuk yang pertama.

Jika saat kuliah kamu bahkan sudah pernah bekerja sebagai staf operasional, mungkin setelah memiliki Ijazah dan kompetensi setelah lulus, kamu bisa saja mengajukan lamaran sebagai Operations Supervisor. Minimal kamu sudah punya pengalaman.

Jangan sampai ketika kamu sama sekali belum punya pengalaman profesional, tapi langsung mengajukan posisi di jabatan yang terbilang middle-class atau top-class.

Pepatah lama yang entah dari mana, saya kutip

Berlian yang ada di kandang sapi, tetap berlian. Ketika tersorot cahaya

Mindset itulah yang harus kita miliki sebagai seorang fresh graduate. Jika suatu saat kamu berkesempatan join di perusahaan tersebut, dan memiliki kontribusi menciptakan improvement, tentu saja hal baik akan datang segera.

Sering kali saya melihat, banyak teman yang terlalu meninggikan value saat melamar pekerjaan, namun ketika proses tes terjadi. Banyak hal yang mungkin tidak sesuai antara ekspektasi pelamar dan juga penerima tenaga kerja.

Sehingga akan sangat sulit untuk matching.

Jangan buang kesempatan dengan percuma, so lakukan persiapan dengan sebaik mungkin.

Menjaga Kesehatan Mental

Bagi mereka yang baru lulus, rasa galau gundah gulana sering kali menghantui. Apalagi hal ini diperparah oleh intensitas stalking media sosial. Yang sering kali melihat banyak sekali temannya yang sudah mendapat pekerjaan, sedangkan dirinya sendiri belum.

“Wih, udah dapat kerja aja nih.”

“Wih, enak banget kerjaannya cuman depan laptop doang.”

“Enak banget bisa dapat beasiswa S2.”

Dst.

Tanpa kita sadari, aktivitas stalking semacam itu bisa menimbulkan gangguan terhadap kesehatan mental bagi para fresh graduate.

Penelitian yang dilakukan oleh Jeanne M. Hinkelman dan Darrell Anthony Luzzo (2007) menjelaskan Kesehatan Mental adalah kondisi individu yang dapat menyadari kemampuannya, bisa bekerja produktif dan dapat berkontribusi dengan komunitasnya.

Dalam kondisi saat kamu tengah mencari pekerjaan, sebaiknya kurangi intensitas untuk memantau seperti pencapaian teman kamu.

Meskipun hal itu memberikan sedikit kamu motivasi dan juga referensi, dalam waktu lama itu malah akan berubah menjadi bola salju atau domino effect, yang akan membuat kamu terjatuh dalam kondisi depresi.

Membandingkan kesuksesan dengan temanmu, sejujurnya tidak akan membuat kondisi kamu menjadi lebih baik.

Dari pada menghabiskan waktu untuk merespon pertanyaan orang tentang apa alasan kamu tidak mendapat pekerjaan atau memantau kesuksesan orang lain. Manfaatkan waktu untuk menambah value, misalnya saja untuk menciptakan karya atau mengikuti training online yang saat ini banyak tersedia.

Dan kalau memang kamu sedang berada di fase ini, tim dari Halodoc memberikan informasi tentang seperti apa sih gejala, faktor resiko, pencegahan dan pengobatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi Kesehatan Mental.

Halodoc merupakan aplikasi kesehatan yang menjembatani kebutuhan masyarakat terhadap kemudahan memperoleh konsultasi kesehatan dengan dokter ahli dibidangnya. Selain konsultasi, melalui aplikasi Halodoc kita juga melakukan pemesanan obat yang bisa langsung diantar ke rumah.

Menariknya, tidak hanya konsultasi terkait penyakit umum saja. Halodoc juga menyediakan konsultasi dengan dokter spesialis dengan ruang lingkup yang cukup luas.

Buat kamu yang memerlukan konsultasi terkait Kesehatan Mental, kamu bisa berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa dan Psikiatri atau dengan Psikolog Klinis.

Memilih karir untuk mempersiapkan masa depan merupakan hal yang cukup kritikal, sehingga persiapan yang memadai perlu untuk dilakukan tapi jangan lupa untuk memperhatikan kesehatan mental agar bisa tetap semangat dalam menjemput karir profesional.

  1. Kunci utama dari hidup sehat adalah menjaga kesehatan mental. Caranya adalah dengan berfikir positif, selalu bersyukur, berdoa dan berserah.
    Hidup harus di bawa enjoy, jangan merasa apa yang anda lakukan itu adalah beban.

  2. Cocok banget nih, untuk temen-temen yang baru pada lulus. Soalnya I’ve been there too, rasanya pun bener-bener kayak diombang-ambing. Sempet ngerasa rendah banget saat stalking terus belum mencapai di tingkat yang diimpikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.