Produktif di Periode WFH

Produktif di Periode WFH
Desk Setup Blogger

Working From Home (WFH) alias kerja dari rumah menjadi istilah yang sangat populer dalam 2 bulan kebelakangan ini. Faktor pandemi yang berkelanjutan, membuat semboyan ini harus digaungkan secara massal.

Sebelumnya, istilah ini sangat akrab dengan saya, dengan tempat dimana saya bekerja. Di Shell Indonesia, WFH merupakan salah satu hal pendukung pekerjaan yang diberikan untuk memfasilitasi permasalahan karyawan jika berhalangan ke kantor, entah karena masalah kendaraan, akses, kondisi tubuh dan lain sebagainya.

Artinya, kami dari sisi karyawan diberikan kesempatan untuk dapat tetap produktif, tidak hanya ketika datang ke kantor.

Menurut saya pribadi, WFH sebenarnya merupakan hal yang menguntungkan. Apalagi bagi para pejuang jarak, yang harus menempuh perjalanan Rumah – Kantor lebih dari 20 Km, dengan waktu tempuh jam macet sekitar 2 jam perjalanan.

Dengan menghemat 4 jam perjalanan untuk pulang dan pergi kerja, saya rasa bisa 2-3 laporan atau improvement yang bisa saya buat.

Saya sendiri merasakan, dengan kondisi WFH ini, waktu yang saya gunakan jam 6 pagi, bisa saya mulai dengan berolahraga, membuat To-Do list hari itu, dan mencoba mereview pekerjaan saya di periode sebelumnya dan kembali melihat kira-kira hal apa ya yang perlu saya improve kedepannya. Baik dari sisi performance dan juga control.

Nah di jam 17.00 kalau di kantur, ketika biasanya waktu tersebut saya biasanya masih berdiri di sudut ruangan memantau kondisi jalanan TB.Simatupang dari ketinggin lantai 25, berbeda dengan WFH saya bisa langsung shutdown Notebook, dan membersihkan meja kerja saya di rumah.

Sama sekali tidak ada perasaan harap dan cemas untuk mengingat macetnya perjalanan pulang kantor yang harus seperti dorong motor. Iya, dorong motor. Sama sekali tidak bergerak. Untuk jam normal, artinya bukan jam berangkat atau pulang kantor, waktu tempuh yang dibutuhkan untuk Jatiwarna – TB.Simatupang hanyalah 45 menit. Dengan berpergian di jam macet, tentu saja bisa meningkat hingga 2 jam perjalanan.

Energi yang tadinya penuh, ketika sampai di rumah benar-benar kosong. Untuk sekedar menyiapkan makan malam saja, rasanya sudah menjadi kegiatan yang berat.

Dengan WFH, semua 4 jam perjalanan bisa benar-benar di tekan, dari sisi efisiensi waktu tentu saja sangat efisien.

Namun, periode WFH yang terjadi akibat pandemi ternyata berkelanjutan.

Dan semakin lama, sejujurnya memang sudah mulai ada rasa jenuh yang muncul akibat mungkin, sama sekali sudah hampir selama saatu bulan, sudah tidak berkomunikasi atau bersosialisasi dengan orang banyak.

Meski ya via virtual hal tersebut tetap terjalin. Istilah Physical distancing, mungkin istilah yang paling tepat dari social distancing, benar-benar sudah dibatasi untuk menekan angka penyebaran pandemi virus corona.

Dan salah satu cara yang untuk saya pribadi untuk menekan kejenuhan yang ada, yaitu dengan melakukan aktivitas baru di rumah. Misalnya saja berolahraga, yang sebelumnya benar-benar tidak pernah lagi saya lakukan, sejak saya meninggalkan target untuk mendaftar menjadi prajurit.

Sekarang, sebelum memulai kerja alias menyalakan notebook di jam 08.00, saya mulai berolahraga ringan, sekedar push up, sit up, dan beberapa gerakan senam lainnya. Kurang lebih selama 40 menit, minimal sedikit melebihi rekomendasi 30 menit sehari.

Berikutnya di sela-sela bekerja, dalam aktivitas yang terbilang low-bandwith, seperti hanya untuk mengerjakan laporan-laporan, saya pun sambil menengarkan musik masa era sekolah, setidaknya sambil mengenang memori lama dan tentu saja sambil menyanyi kecil, karena tentu pasti mengingat dengan jelas beberapa potongan lirik lagu.

Sebulan berlalu, kejenuhan karena WFH berkepanjangan benar-benar bisa ditekan. Namun sekarang pertanyaannya, apakah WFH itu bisa produktif?

Satu kata, Ya, tentu dengan WFH bisa membuat kita tetap produktif. Dengan beberapa catatan yang perlu kita garis bawahi.

Pertama, kita harus membuat To-Do list. Hal ini membuat kita mengetahui, hal apa saja yang akan kita kerjakan dalam satu hari bekerja dan juga hal ini bisa membuat kita teringat hal-hal apa saja yang harus kita persiapkan.

Daily To-Do list

Kedua, untuk bisa semangat bekerja, environment bekerja pun harus mendukung. Artinya apakah kita sudah menyiapkan meja, atau spot khusus untuk bekerja. Minimal di tempat yang dari sisi ergonomisnya dapat lah. Buat kamu yang tidak punya atau belum punya, coba cari sudut ruangan yang memang layak menjadi tempat bekerja. Kalau tidak punya meja kerja di rumah, meja kecil untuk duduk di lantai lebih pas dari pada harus duduk di sofa memangku notebook, untuk waktu lama hal tersebut sangat tidak dianjurkan.

Ketiga, tetap bergerak. Istilah yang umumnya digunakan adalah 20-20, artinya 20 menit duduk, 20 menit bergerak. Meski dalam pelaksanaan sangat sulit, ya minimal kita memaksakan diri untuk tetap bergerak. Selain untuk membuat kita terhindar dari jenuh, cara ini juga membuat kita tetap fresh dalam bekerja.

Keempat, dalam beberapa kesempatan cobalah untuk menyapa rekan kerja via aplikasi chatting dari kantor, seperti Skype Business, Google Meet, Zoom dan lain sebagainya. Jika diperlukan, cobalah untuk melakukannya dengan video call.

Virtual Coffee via Skype Meeting

Kelima, siapkan minum air putih dalam gelas dan jangan menggunakan botol. Hal ini agar kamu punya alasan untuk bergerak ke dispenser, meski jaraknya hanya 3-5 meter saja dari tempat kamu duduk bekerja. Karena tentu saja, dengan menggunakan botol, kamu bisa saja duduk seharian di tempat yang sama hingga 4-5 jam tanpa bergerak. Benar-benar tidak sehat.

Keenam, Jika dalam satu hari kerja di kalender terdapat banyak meeting. Kamu bisa mengevaluasi, apakah meeting tersebut benar-benar harus kamu ikuti, apakah dari tim kamu ada yang bisa backup? Hal ini dibutuhkan agar kamu bisa tetap bisa fokus mengerjakan apa yang sudah kamu tulis di To-Do list kamu.

Ingat ya, semakin kamu mengabaikan To-Do list, itu akan membuat harimu menjadi berat.

Dari sekarang, cobalah untuk bekerja cerdas, dari pada kerja keras.

Kita harus benar-benar tahu, bagaimana cara untuk mengalokasikan energi dan waktu yang kita miliki untuk hal-hal yang bernilai dan memang bisa tercapai.

Saya sendiri pernah mengalami, merasa satu hari kerja merasa tidak produktif dalam sisi hasil pekerjaan. Karena memang banyak sekali agenda meeting yang saya ikuti. Istilahnya estafet meeting lah, namun saya pun mulai menimbang dengan skala prioritas dari agenda meeting dan To-Do list yang saya miliki.

Jika To-Do list lebih berat posisinya, maka saya akan diskusi ke Line Manager saya, untuk dapat ijin dari agenda meeting yang ada untuk mengerjakan hal lain yang mungkin lebih urgent atau butuh konsentrasi dalam mengerjakannya.

Dan sepertinya, enam tips itu saja cukup, sebagai referensi kamu untuk bisa tetap produktif di rumah.

Intinya sih, kamu harus tahu dulu apa yang mau kamu kerjakan, dan tulis. Jangan hanya sekedar diangan-angan saja. Karena 10-15 menit, pasti kamu akan sibuk dengan hal lain dan lupa ada pekerjaan penting yang harus kamu selesaikan.

Ingat, dalam bekerja kita tidak boleh hanya fokus dengan masalah yang ada, namun sempatkan untuk melihat peluang improvement yang bisa kita kontribusikan ke tempat kita bekerja.

Baik posisi sebagai Staff, Manager atau Owner, kita harus bisa bekerja dengan balance, mengutamakan pemecahan masalah dan mencari peluang untuk berkembang.

Sekian dulu sharing kali ini, kalau kamu punya hal yang sama yang ingin kamu bagikan tentang sulitnya atau uniknya kerja di periode WFH, tolong tulis di kolom komentar ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Pengalaman Merantau di Jakarta
Up Next:

Ketika Perantau Memutuskan Untuk Tetap Tinggal

Ketika Perantau Memutuskan Untuk Tetap Tinggal