Ketika Perantau Memutuskan Untuk Tetap Tinggal

Ketika Perantau Memutuskan Untuk Tetap Tinggal

Agustus 2010, adalah momen yang cukup ‘life-changing‘ bagi hidup saya. Karena pada bulan itu, adalah bulan dimana saya memutuskan untuk merantau ke Kota Jakarta sebagai seorang mahasiswa.

Pilihan ini sejujurnya masih menjadi samar-samar ketika diingat, alasan apa dibalik keputusan besar ini, yang mungkin akan berbeda ceritanya jika saya tak mengambil keputusan itu.

Teringat dengan jelas, bagaimana kondisi saat saya memutuskan untuk berangkat menggunakan KA. Gaya Baru Malam Selatan, memang namanya sedikit terdengar dangdut, namun begitu adanya.

Dengan Rp 28.000 saja, saya bisa berpindah dari Kota Mojokerto ke Jakarta dengan waktu tempuh ketika itu sekitar 16 jam, dengan padatnya manusia dalam kereta serta beraneka ragam kulineran tersedia diatas kereta oleh pedagang yang ketika itu masih berkesempatan untuk mencari rejeki diatas kereta.

Unik, seru dan manis teringat, ketika dengan bosan menunggu di kursi kereta yang entah kurang nyaman saat itu, namun dipermanis dengan kehadiran pedagang yang menawarkan pop mie dan kopi panasnya.

Belum lagi yang cukup seru, jika sudah tiba melintasi stasiun di Kota Jogjakarta, kita akan diserbu oleh berbagai pedagang oleh-oleh khas kota itu.

Dalam perjalanan ketika itu, bukanlah perasaan sedih meninggalkan kota Mojokerto dan juga keluarga, namun rasa ingin membuktikan bahwa sepulang dari merantau, akan menjadi pribadi yang lebih baik karena ingin membuktikan sesuatu pada seseorang pada saat itu.

Hal pertama yang ada di pikiran, ketika tiba di Jakarta adalah hal yang merasa percaya dan tidak percaya. Yang mana pada akhirnya bisa menginjakkan kaki di Kota Jakarta, kota yang kerap muncul di media televisi dan menjadi fokus pemberitaan terutama mengenai artis dan juga berita tentang negara tentunya.

Pengalaman pertama ketika tiba di Jakarta, metromini adalah kendaraan yang menjadi pilihan saya saat itu. Selain karena sudah jelas memiliki rute yang menjadi tujuan saya, tentu karena harganya murah. Hanya dengan Rp 8.000 dapat mengantarkan saya sampai tujuan.

Ya, sebagai seorang perantauan dengan modal perjalanan yang tipis, saya harus bisa mengatur pengeluaran sampai limit terkecil tentunya.

Hal menegangkan pun terjadi setelahnya, saya seumur tinggal di Mojokerto hanya sesekali menggunakan kendaraan bis dari Mojokerto menuju Surabaya. Dan perjalanan itu pun terbilang sangat jarang, karena tidak ada keperluan yang penting untuk saya melakukan perjalanan itu.

Sehingga, ketika saya dihadapkan pada keahlian mengemudi metromini yang dengan kendaraan besar begitu bisa lihai bermanuver ditengah kemacetan, menurut saya itu, Sades!

Dari Stasiun Jatinegara, lokasi tempat saya turun dari kereta, saya pun langsung menuju kawasan Cipinang Melayu. Lokasi tempat kampus yang menjadi pilihan saya untuk melanjutkan studi pada saat itu.

Dengan latar belakang keluarga yang belum memiliki pengalaman sarjana, itu adalah kali pertama bagi saya dan juga keluarga saya mengenai seluk-beluk dunia perkuliahan terutama masalah program studi, akreditasi dan lain sebagainya.

Yang mana, itu tidak masuk dalam opsi saya dalam memilih lokasi kampus untuk berkuliah. Hanya bermodal brosur yang dikirim via pos, dan dengan melihat harga perkuliahan yang murah. Cukup menjadi alasan bagi saya dan orangtua untuk memutuskan saya berkuliah di kampus itu.

***

Empat tahun berlalu, setelah menyelesaikan kuliah, pada akhirnya saya pun diterima bekerja di salah satu perusahaan migas swasta asal belanda. Dengan modal kemampuan yang saya dapatkan dari kuliah melalui unit kegiatan mahasiswa baik Senat dan Menwa, memberikan saya sedikit modal keberanian untuk tampil dan berkontribusi bagi perusahaan itu.

Dan meski di akhir tahun 2015 saya pernah mengajukan resign, dan nekat mengikuti tes masuk salah satu instansi negeri, pada akhirnya setelah gagal dan 12 hari mengikuti seleksi tingkat pusat.

Saya pun masih diberikan kesempatan sekali lagi, untuk masuk di perusahaan tempat saya bekerja sebelumnya, yang mungkin saat ini saya menganggapnya merupakan rejeki yang luar biasa, yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala anugerahkan kepada saya.

Dimana memberikan saya pengharapan untuk dapat tetap hidup, meski pernah jatuh di jurang paling dalam dalam hidup karena gagal di posisi yang tinggal selangkah lagi.

Waktu terus berlalu setelah itu, sampai dititik yang saya pahami bahwa untuk dapat memperbaiki kehidupan keluarga, rasa-rasanya saya harus tetap ada di Jakarta.

Karena saya sudah memiliki apa yang bisa membuat saya bertahan hidup di Jakarta, mulai dari relasi, teman, keluarga kedua, dan juga beberapa orang yang sangat mensupport apapun yang saya lakukan disini.

Jadi, di tahun 2016 saya pun memutuskan untuk beralih kependudukan dari kependudukan Mojokerto ke Jakarta.

Jujur, pilihan itu adalah pilihan besar yang saya ambil, dengan melakukan serangkaian mode riset melalui pilihan dan eliminasi, dengan membandingkan bagaimana jika saya tetap di Jakarta, atau saya kembali ke Mojokerto yang mana alasannya dilatarbelakangi oleh telah selesainya kuliah saya, yang merupakan alasan utama saya untuk ke Jakarta.

Namun dengan berbagaimacam pertimbangan, pada akhirnya bermuara pada pilihan, bahwa saya harus menetap. Alasan terbesarnya karena kesempatan kedua yang diberikan oleh perusahaan untuk saya dapat berkarir sekali lagi, dan juga relasi yang telah saya miliki di kota metropolitan.

Karena bagaimanapun, jika saya kembali ke Mojokerto pasti saya harus memulai semua dari nol lagi.

Membangun relasi, mencari pekerjaan yang mungkin pada saat itu masih abu-abu dimana saya akan berkarir. Dengan bidang ilmu yang saya ambil, dan masih belum terlalu populer, rasa-rasanya menjadi staf admin adalah hal yang paling baik yang bisa saya lakukan jika saya keluar dari Jakarta pada saat itu.

Tapi, pilihan pada akhirnya jatuh untuk berpindah kependudukan dari warga Mojokerto menjadi warga Jakarta.

Untuk proses pengurusan kepindahan kependudukan, jalur yang saya gunakan adalah benar-benar legal. Saya mengurus semua dokumen secara benar, mulai dari SKCK dari kota asal, mengurus surat keterangan RT/RW dan kelurahan, mencari KK penerima kependudukan saya di Jakarta, dan mengurusnya di Kantor Dukcapil, Walikota Jakarta Timur.

Kurang lebih 3 bulan lamanya proses menunggu ini, meski lama tidak sedikitpun biaya berlebihan yang harus saya keluarkan, selain untuk transportasi, fotocopy dan juga materai.

Dan tak terasa, hampir 9 lebaran saya lalui tanpa kebersamaan dengan keluarga. Ya, memang saya tidak pernah kembali ke Mojokerto pada suasana lebaran.

Saya lebih memilih kembali pada kesempatan acak, yang bisa datang kapan pun. Karena saya berpikir, jika saya menjadikan lebaran sebagai satu-satunya momen bagi saya untuk pulang, maka itu akan berat nanti ketika saya telah berkeluarga. Yang mana pasti saya akan memiliki keluarga lainnya nanti, dan akan menjadi sulit ketika memutuskan harus berlebaran dengan siapa nantinya.

Jadi, akan lebih mudah bagi saya untuk bisa pulang kapan pun, dan tidak menunggu Lebaran menjadi momen saya untuk pulang.

Toh juga sudah ada teknologi, yang mana kehadiran orangtua pun tidak harus phisically hadir di depan mata untuk melepas rindu, bisa kapun pun bahkan ketika saya menyelesaikan tulisan ini.

Dan cerita seorang perantauan untuk menetap tidak berakhir hanya berpindah KTP itu saja. Hal itu saya lanjutkan, sampai memutuskan untuk membeli rumah di daerah pinggiran Jakarta, tepatnya di Kota Bekasi.

Memang, pilihan saya ini dianggap banyak orang sekitar terutama teman merupakan pilihan yang salah.

Karena lebih memilih untuk mengutamakan rumah, dan juga pendidikan Magister yang tengah saya tempuh sekarang, dari pada mengumpulkan biaya untuk menikah.

Untuk hal itu, akan saya ceritakan di lain post ya. Untuk berbagi alasan mengenai faktor-faktor dan pertimbangan apa saja yang membuat saya pada akhirnya memilih untuk melanjutkan studi Magister dan mengambil rumah ketimbang melangsungkan pernikahan.

Sampai disini dulu ceritanya, thanks for reading!

  1. Saya bingung mas, disisi lain saya pengin menjaga orang tua saya karena saya anak satu-satunya, disisi lain juga saya pengin jadi orang ang berguna buat masyarakat di Desa….

    hidup dikota memang menjanjikan untuk karir, tapi….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.