Investasi Tak Kasat Mata

Investasi Tak Kasat Mata

Beberapa hari lalu, saya melakukan perjalanan dinas di wilayah Kalimantan Selatan, tepatnya di kota Banjarmasin. Namun tujuan perjalanan saya kali ini, bukan sebagai tim pendukung presiden untuk melakukan tinjauan lokasi untuk Ibukota Baru Republik Indonesia.

Perjalanan kali ini, saya lakukan untuk mendukung salah satu operasional injeksi bahan kimia atau yang umumnya dikenal sebagai zat aditif, ke salah satu distributor tempat saya bekerja.

Kurang lebih hampir 2 minggu lamanya saya berada di kota Banjarmasin. Menginap di salah satu hotel, yang letaknya di mall satu-satunya di kota Banjarmasin.

Jarak dari hotel ke lokasi tempat saya bekerja lumayan terbilang cukup jauh, hal ini di perparah dengan sulitnya akses transportasi umum di tempat itu.

Bahkan dengan menggunakan layanan transportasi online pun, saya masih kesulitan untuk mendapatkan pengemudi.

Dan pernah di sore hari, ketika pekerjaan baru selesai dan saya ingin kembali ke hotel. Hampir kurang lebih dua jam, saya harus menunggu untuk bisa mendapatkan pengemudi transportasi online.

Oh ya, tempat saya bekerja di Banjarmasin, terletak di wilayah Barito Kuala. Jaraknya kurang lebih hanya 19 KM dari Banjarmasin dengan waktu tempuh rata-rata 45 menit.

Lokasi tempat saya bekerja, sebenarnya merupakan tempat yang terbilang ramai dilalui oleh kendaraan truk yang ingin menuju ke Pekanbaru, dan sangat dekat dengan salah satu objek wisata Jembatan Barito atau Jembatan Suharto yang menjadi kebanggaan warga Banjarmasin.

Singkat cerita, dengan sulitnya akses transportasi dari hotel menuju lokasi tempat saya bekerja, akhirnya saya memutuskan untuk meminta nomor pengemudi yang beberapa kali mengantarkan saya ke Barito.

Dan meski pada akhirnya transaksi yang kita lakukan secara offline tanpa melalui aplikasi, untuk mengitung biayanya kami masih menggunakan angka yang ada pada aplikasi, yakni biaya dari Hotel Mercure Banjarmasin menuju Barito Kuala.

Pada awalnya perbincangan saya dan Pak Imam, hanya sebatas mengenai lokasi wisata di Banjarmasin, kuliner khasnya, dan bahkan situasi politik terkait 22 Mei lalu.

Namun, di satu perjalanan dari Hotel ke bandara untuk perjalanan pulang saya. Diperbincangan kami, saya pun mulai bertanya mengenai kehidupan pribadi pak Imam.

Mulai dari apakah dia menjalani profesi pengemudi online secara penuh waktu, apa pekerjaan istrinya dan berapa anak serta sekolah sampai mana.

Dari pertanyaan itulah, akhirnya pak Imam pun memulai ceritanya tentang perjalanan hidupnya.

Saat ini, pak Imam telah memutuskan untuk penuh waktu menjalankan profesi sebagai pengemudi online. Hal ini dilakukan, semata-mata karena agar memiliki waktu yang lebih fleksibel dengan keluarga, terutama anak keduanya yang saat ini masih duduk di bangku kelas 3 sekolah menengah pertama.

Sedangkan istrinya, saat ini tengah menyelesaikan studi Doktoral bidang bahasa, di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Surabaya. Dan tentu saja jarak bukan menjadi penghalang untuk istrinya untuk melanjutkan pendidikan.

Setiap akhir minggu, istrinya harus menempuh perjalanan Banjarmasin – Surabaya hanya untuk menghadiri perkuliahan, belum lagi jika seketika dosen ingin memberikan kuliah padahal sang istri baru kembali dari Surabaya, maka tanpa pikir panjang keesokan hari Pak Imam pun harus mengantarkan lagi istrinya ke bandara.

Soal biaya, pak Imam pun telah menjual habis beberapa unit kendaraan yang dimiliki, mulai moge dan juga salah satu mobil lain milik mereka. Ditambah juga dengan sertifikat rumah, dan juga beberapa perhiasan bahkan sampai sempat mencari pinjaman ke keluarga demi untuk mendukung studi sang istri.

Saya pun bertanya, untuk tingkat Doktoral mengapa tidak mengambil jalur beasiswa dan sebagainya untuk membantu biaya studi.

Pak Imam pun menjelaskan, sebenarnya pernah ada tawaran pemberian beasiswa namun hal tersebut ditolak oleh istrinya, dengan alasan bahwa tidak ingin terikat di sebuah instansi, dan biar saja kesempatan tersebut diberikan kepada orang lain yang benar-benar membutuhkan, yang kondisinya lebih parah dari keluarga mereka.

Latar belakang istri Pak Imam sendiri, merupakan seorang Dosen di salah satu perguruan tinggi di Banjarmasin. Dengan studi yang ditempuh, kadang membuatnya tidak lagi memiliki waktu untuk keluarga.

Selain karena harus fokus dengan penelitian yang dilakukan, juga untuk tetap menjalankan tugas sebagai seorang pengajar. Yang memang, jika ingin berjalan dengan baik, maka sudah tentu ada hal yang harus dikorbankan, dan pada cerita ini, keluarga lah yang menjadi korban.

Dalam ceritanya, tak sedikitpun pak Imam nampak menjadi orang yang merasa di dzolimi, dengan posisi sebagai seorang suami. Bahkan, pernah dalam satu kesempatan. Pak Imam pada akhirnya menemani sang istri untuk melakukan studi di kota Jambi selama sebulan.

Hal ini menurutnya, merupakan satu bentuk dukungan yang diberikan kepada istri.

Dan ketika saya bertanya masalah berapa biaya yang telah dihabiskan dengan lamanya studi, Pak Imam pun berkata mungkin nilainya bisa sampai satu milyar.

Karena studi doktoral bukan hanya soal kuliah, namun juga ada aktivitas lain yang membutuhkan biaya. Belum lagi dengan perjalanan dari Banjarmasin ke Surabaya.

Menurutnya, semua hal yang dilakukan oleh istrinya dan keluarganya semata-mata karena ingin berinvestasi, namun bukan investasi dalam bentuk yang dapat dilihat oleh orang.

Dia berpendapat, dengan pedidikan yang lebih baik tentu bisa merubah kehidupan dia dan keluarganya menjadi lebih baik, setidaknya bisa memiliki kesempatan yang lebih baik dan lebih luas.

Hal itupun yang ditanamkan pada putranya, yang saat ini duduk di tingkat sarjanasemester 4 dan berkuliah di daerah Malang.

Bahkan, Pak Imam pun menantang putranya, untuk jangan kembali menginjakkan kaki di Banjarmasin jika belum selesai studi Magister, karena malu dengan Ibunya yang sebentar lagi akan menyelesaikan program Doktoral.

Nah jika cerita di atas tadi tentang istri dan juga anaknya, bagaimana dengan Pak Imam sendiri?

Tentang Pak Imam, saat ini dia pun sedang proses menyelesaikan tesis untuk program Magister Hukum. Meski pernah bergelut di dunia tambang sebagai seorang sarjana teknik, pada akhirnya membuat dia tertarik untuk lagi masuk di dunia perkuliahan dan mengambil fokus studi hukum.

Di tahun 2013, dia kembali masuk kuliah mengambil sarjana hukum. Atas dukungan istri pula, di empat tahun berikutnya dia langsung melanjutkan studi program Magister.

Pak Imam sedikit membagikan cerita masa lalunya, bahwa hidupnya sepenuhnya berubah berkat dukungan sang istri. Dengan masa lalu yang hidup bebas, dan dikenal ‘nakal’ oleh keluarganya, pada akhirnya akan berubah oleh dukungan sang istri.

Sang istri lah yang menyadarkan Pak Imam, bahwa pendidikan bisa memberikan kebaikan. Bukan hanya dari satu pihak, melainkan banyak pihak. Banyak orang bisa mendapatkan manfaat jika menjadi seorang pengajar.

Dan Pak Imam sangat mensyukuri hal itu.

Disini, saya pun mengambil beberapa hal yang mungkin dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.

Pertama, cara pandang mengenai investasi di bidang pendidikan nampaknya kurang begitu populer saat ini, karena kita telah disajikan berbagai kemudahan investasi hanya dari sentuhan jari melalui perangkat selular yang kita miliki.

Investasi pendidikan, mungkin nampaknya sudah terlalu kuno. Karena berasumsi banyak orang yang tidak berpendidikan, namun memiliki kehidupan yang baik bahkan mewah.

Kedua, sepertinya tidak banyak suami yang mau berkorban begitu besar demi mendukung keinginan istrinya bahkan rela waktu istrinya hanya habis di pekerjaan dan studi yang dijalani, mengorbankan waktunya untuk bersama suami dan juga anak-anaknya.

Karena yang ada dipikiran Pak Imam, toh apa yang dilakukan istrinya juga demi kebaikan pak Imam dan juga keluarganya.

Ketiga, resiko yang diambil oleh istri Pak Imam pun terbilang besar. Karena jarak tempuh Banjarmasin – Surabaya tentu tidak bisa dipandang sebelah mata. Dan itu dilakukan untuk keluarganya.

Disini saya pun melihat sepertinya banyak sekali nilai yang dimiliki oleh keluarga Pak Imam.

Tentang seorang suami yang mendukung penuh keinginan sang istri, tentang seorang istri yang bertekad kuat memiliki pendidikan yang lebih tinggi demi masa depan keluarga, tentang suami yang juga memberikan motivasi yang baik untuk anaknya , serta tentang kesabaran keluarga Pak Imam dalam menjalani semua proses yang ada di depan mata.

Karena kehidupan selalu penuh dengan resiko, adalah urusan kita untuk mempertimbangkan resiko yang paling kecil dan paling sesuai dengan kita dan pada akhirnya memasrahkan semua kehendak pada Tuhan.

  1. Kalo investasi pendidikan, orang tua aku salah satu yang sadar, dan anaknya harus minimal S2 PTN karena orang tua pendidikan cuma sampe SD SMP karena dulu kebatas biaya, kata Mama Papa itu pendidikan harus setinggi-tingginya biar banyak pengalaman hidup, banyak koneksi, banyak ilmu

  2. Wait..

    Gue kira itu foto pertama adalah di Sungai Nil. Eh ternyata sungai di Banjarmasin toh.

    Btw, cerita bapak Imam dan istri nya sangat menginspirasi. Sebagai anak muda yang belum nikah dengan membaca dan menela’ah kisah diatas untuk membahagiaakan pasangan kita kelak nanti bagaimanapun caranya dengan jalan yang halal.

    Banjarmasin – Surabaya, Surabaya – Banjarmasin kan mayan jauh dan betul banget nggak bisa di pandang sebelah mata.

  3. MasyaAllah luar biasa ceritanya, Mas. Awalnya saya menerka-nerka bagaimana Pak Imam bisa menjadi keluarga yang mementingkan pendidikan. Saya kira juga Pak Imam saya saja yang mengorbankan dirinya untuk istri demi pendidikan. Ternyata istrinya juga berkorban untuk suaminya. Benar-benar keluarga menginspirasi. Thanks for sharing, Mas.

Leave a Reply to Dayu Anggoro Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Up Next:

Cara Saya Merencanakan Liburan Hemat

Cara Saya Merencanakan Liburan Hemat