Cara Saya Merencanakan Liburan Hemat

Cara Saya Merencanakan Liburan Hemat

Bagi seorang bujangan dengan banyak tanggungan di masa depan, bukan hal mudah bagi saya mengalokasikan dana yang saya miliki untuk keperluan yang tidak bersifat urgent. Hal itu disebabkan tekanan yang datang dari keluarga, terutama orangtua mengenai rencana masa depan yang harus segera saya penuhi, apalagi kalau bukan harus segera menyelesaikan studi S2, segera memiliki rumah dan juga menikah. Maklumlah, di zaman ini, usia mendekati 30 merupakan usia yang sangat rentan akan “nyinyiran” orang-orang sekitar tentang berbagai pertanyaan yang bersifat Itu-Bukan-Urusan-Anda-Bertanya-Kepada-Saya.

Tapi mau tidak mau, sebagai makhluk sosial saya pun harus berbesar hati menjawab semua pertanyaan demi kehidupan berbasa-basi yang normal, satu hal yang saya ambil ketika menghadapi pertanyaan dari orang-orang sekitar saya adalah, bahwa mereka perhatian dan peduli dengan kehidupan saya. Mudah.

Jadi balik lagi dan coba bayangkan, bagaimana seorang bujangan dengan level profesional muda bisa menanggung beban finansial yang begitu besar yang kalau dihitung-hitung untuk S2 saja setidaknya butuh dana kurang lebih 60jt, ditambah DP rumah 20% nilainya kurang lebih 120 jt dengan asumsi harga rumah standar 600 jt, dan juga ada lagi biaya nikah yang estimasi minimal 90 jt. Jadi totalnya, Rp 270 jt merupakan biaya yang harus di tanggung oleh bujangan, perantauan, di Jakarta. Sedih!

Sampai disini, saya jadi mikir kira-kira organ tubuh mana yang harus saya jual di e-commerce kategori health.

So, dengan tanggung jawab yang begitu bernilai finansial, bagi saya bukan hal mudah untuk merencanakan liburan. Apalagi kalau diingat sekarang, harga tiket pesawat mulai naik karena bagasi tidak lagi gratis. Jadi, mau tidak mau, harus putar otak lagi demi bisa menjalani hidup Work-Life Balance.

Ya, Work-Life Balance merupakan hal yang selalu saya jaga dalam menjalani kehidupan karir saya di kantor. Karena saya selalu berpikir bahwa usia saya tidak selalu muda. Seorang Ichsan,  bocah yang terjun di dunia Terminal Operations tidak selamanya menjadi eksekutor dan planner. Namun kedepan akan memiliki kesempatan untuk menjadi seorang leader.

Sehingga, dengan begitu besarnya tanggung jawab saya di kantor, harus saya atur sedemikian rupa untuk menjaga diri, mental dan semangat saya harus selalu berada di jalur terbaiknya dan tidak sampai di titik jenuh. Salah satu cara yang saya lakukan adalah dengan liburan, mengunjungi tempat-tempat yang memiliki warna hijau atau biru sejauh mata memandang.

Dan bagi saya, tempat ideal bagi saya untuk menyegarkan kembali kesehatan diri, mental dan juga semangat saya adalah dengan berlibur ke pantai. Karena saya paling suka berenang di laut, sampai-sampai saya pernah menghabiskan uang kiriman bulanan dari orangtua semasa kuliah, hanya untuk ikut kursus scuba diving agar bisa menyelam.

Tapi balik lagi soal Rp 270 jt, mengatur liburan bagi seorang bujangan, profesional muda dan perantauan bukanlah perkara mudah. Demi bisa hidup “Work-Life Balance” ini, saya harus putar otak lagi bagaimana bisa saldo direkening tidak banyak berkurang, tapi kesehatan mental, semangat dan diri saya pun tetap terjaga.

Cara yang saya lakukan adalah dengan berusaha mengatur dan merencanakan liburan dengan sehemat mungkin atau istilah kerennya liburan low budget lah.

Kalau bicara soal eksistensi di media sosial utamanya instagram, berkunjung ke tempat-tempat yang nan jauh dimato rasa-rasanya sulit. Apalagi dengan harga tiket yang melambung tinggi sejak bagasi pesawat tak lagi gratis. Otomatis romantis, liburan ke luar Jakarta bukanlah pilihan yang bijak.

Jadi saya lebih memilih liburan ke Puncak, Bogor untuk mendapatkan suasana hijau sejauh mata memandang  atau ke kepulauan seribu untuk urusan yang biru-biru.

Bagi saya sendiri, perjalanan ke puncak mungkin sudah puluhan kali sejak dulu kuliah sering sekali bagi saya untuk berkunjung ke puncak untuk mengikuti berbagai kegiatan dari kampus, pelatihan dari Menwa dan liburan bersama rekan kerja.

Nah kalau ke kepulauan seribu, sejujurnya saya baru sekali kesana dan itupun ke pulau pramuka, hanya untuk disiksa demi bisa mendapatkan lisensi peselam Scuba Diver A1. Jadi bukan untuk liburan.

Dan kalau bahas kepulauan seribu bersama calon, sudah pasti pembicaraan tidak akan berhenti sampai 2 kalimat, misalnya saja “Ke kepualauan seribu yuk?”, “Ayuk”.

Pasti akan panjang sampai kapan tanggal yang tepat untuk kesana, bagaimana transportasinya, kegiatannya apa yang bisa dilakukan disana, sampai siapa yang akan diajak untuk liburan kesana.

Jika calon lebih memikirkan rencana untuk menikmati liburan itu, sepanjang percakapan otak saya lebih mikir “Berapa dana yang harus saya keluarkan untuk liburan itu.” Apalagi jika pemilihan tanggalnya kurang tepat, atau di periode liburan sekolah sudah tentu harga akan melambung tinggi.

Jadi demi bisa menjaga Work-Life Balance, liburan low budget itu harus diatur dengan strategi berikut ini.

Memilih Periode Liburan Yang Tepat

Bagi kaum milenial sudah pasti memiliki keinginan untuk liburan dan posting foto di instagram yang memenuhi standar instagrammable, salah satunya foto di tempat yang sepi. Minimal ketika di foto, tidak ada background anak kecil lari-lari ketika disuapin ibunya untuk makan.

Untuk ini, baiknya menghindari periode liburan yang mendekati atau bertepatan dengan libur hari besar agama, libur anak sekolah atau hari libur nasional.

Selain karena nanti fotonya tidak instagrammable, dari sisi kesehatan finansial ini akan bermasalah karena pada periode tersebut harga-harga tiket akan jauh melambung tinggi karena besarnya potensi orang-orang yang akan liburan.

Jadi demi biar bisa hemat, dan juga instagrammable lebih baik liburan dengan mengambil waktu cuti kerja kan.

Tujuan Wisata Sesuai Kantong

Sebelum merencanakan liburan, satu hal yang perlu ditentukan terlebih dahulu adalah berapa dana yang dialokasikan untuk liburan. Jadi dari situ, kita bisa mulai melakukan riset mengenai destinasi wisata yang bisa kita capai dengan dana yang kita alokasikan.

Jangan sampai berangkat naik kapal, pulang berenang. Kenyang air ini pasti.

Jadi kita perlu secara bijak, mengatur pengeluaran selama liburan yang akan kita nikmati nantinya. Karena soal liburan bukan hanya tentang harga tiket ke tempat tujuan yang harus kita pikirkan berikut ongkos baliknya. Kita juga perlu memikirkan dan mengetahui berapa sih harga makanan, destinasi wisata yang ada disana, dan juga biaya sewa perlengkapan yang mungkin akan kita nikmati di tempat tujuan.

Misalnya saja ketika kita memutuskan untuk liburan ke Pulau Tidung untuk bisa menikmati aktifitas seperti snorkling atau diving, kita bisa mulai dengan mencari informasi seperti paket liburan ke Pulau Tidung, jenis transportasi yang tersedia, aktifitas yang bisa lakukan, dan yang terpenting spot foto mana sih yang paling keren disana.

Semakin Banyak Orang, Semakin Hemat

Prinsip ini sebenarnya lebih mengarah pada cost sharing, atau pengalokasian biaya yang dapat dimanfaatkan secara bersama-sama dengan biaya yang sama rata. Hal ini benar-benar bisa menekan dana liburan sampai angka paling rendah.

Misalnya saja jika ita lihat di web Traveloka, untuk penginapan yang ditawarkan di Pulau Tidung berkisar antara Rp 300 – 500 ribu permalam. Artinya jika kalian terdiri dari enam sampa delapan orang yang istilahkan datang ke Pulau Tidung untuk benar-benar menikmati pemandangan alam bersama, menikmati family time, dengan bakar jagung dan sebagainya. Penggunaan 2 kamar homestay waktu menginap satu malam total Rp 800 ribu untuk enam sampai delapan orang pastilah terbilang sangat murah.

Apalagi jika sampai untuk makan-makannya kalian pun urunan, demi bisa makan bersama tentu hal ini akan memberikan banyak momen yang berbeda. Momen penghematan, dan juga momen kebersamaan yang bisa kalian nikmati bersama.

Kesimpulan

Bekerja merupakan hal yang wajar yang dilakukan semua orang, apakah sifatnya kerja kantoran atau freelance pastilah memiliki tekanan masing-masing berdasarkan lingkungannya. Apakah dari atasan, rekan kerja sendiri, atau dari client.

Semua punya masalahnya masing-masing namun kita harus mampu mengatasi semua hal itu namun dengan kendali penuh, artinya kita harus dapat mengalokasikan tenaga, waktu dan pikiran secara tepat agar bisa menjaga kesehatan mental, diri dan juga pikiran kita untuk dapat tetap produktif demi bisa menjaga kestabilan keuangan.

Karena dengan berpikir bahwa saya mampu berkerja 12 jam sehari demi mendapatkan uang lembur, toh nantinya akan berpengaruh ke kesehatan kita. Karena masalah kesehatan,  timbulnya itu beragam. Tidak hanya datang saat itu saja, namun bisa datang satu minggu, satu bulan atau beberapa tahun yang akan datang. Dimana penyakit itu timbul karena terakumulasi dari kebiasaan kita yang tidak pandai mengatur waktu untuk mengistirahatkan tubuh, pikiran dan kebutuhan lain seperti sosialisasi bersama keluarga, teman di luar kantor dan masyarakat di sekitar kita.

Satu hal yang ingin saya sampaikan disini adalah, masalah hemat merupakan hal harus kita lakukan. Bukan hanya masalah finansial masa depan yang harus kita rencanakan dan atur dengan sedemikian rupa. Namun kembali pada mengendalikan nafsu kita dalam hal konsumerisme.

Membeli apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Karena sampai kapanpun apa yang kita miliki tidak akan memuaskan kita. Karena itu sudah sifat manusia.

Baik sampai disini dulu ceramah penghematan dari seorang perantau profesional. Pada cerita berikutnya mungkin saya akan membagikan bagaimana pengalaman saya mencari rumah di wilayah Jakarta kurang lebih selama 3 bulan dengan survei sampai 9 titik lokasi rumah di wilayah Bogor, Depok dan Jakarta.

Bagi yang penasaran dan dalam waktu seminggu kedepan saya belum posting, rekan-rekan bisa langsung japri reminder saya .

Karena . .

Bisa posting itu, karena dipaksa.

Happy blogging 🙂

  1. nice story. selalu senang membaca tiap kata per kata sampai pada paragraf terakhir. Liburan memang harus selalu direncanakan ya mas. tapi jangan terlalu sering kalau hanya sekedar untuk memuat feed instagram. Happy blogging ditunggu tulisan selanjutnya.

  2. Bisa mengatur liburan dengan low budget udah keren banget mas,, apalagi liburan modal 50rb cuma sedikit orang yg bisa ngaturnya,,, 800rb ke pulau tidung cukup murah bila akomodasinya sewa mobil, namun jika pakai motor itu terlalu besar budgetnya menurut saya. Salam blogger

  3. Mataku langsung melotot lihat angka 270 juta. Bukan karena nilainya, tapi untuk pengalokasiannya yang memang selalu NAIK.

    Back to traveling, pilihan yang BIJAK kalau saat ini lebih memilih liburan di sekitaran Jabodetabek.

    Yang PENTING, jangan sampai niat liburan untuk refreshing, tapi malah emosi jiwa karena jalan yang macet 😀

  4. Cara yang menarik untuk merencanakan liburan nih. Kira-kira, kalau cara gue buat liburan ya kurang lebih sebelas dua belas sama kaya elu dah bro.

    Bikin dulu itenerary nya mau kemane aje dan berapa budget nye, ya walaupun kadang suka bodo amat ama biaya 🙁

  5. Saya sepakat untuk liburan jangan pas hari libur. Susah banget buat foto bagusnya, nunggu sepi kelamaan, orgnya lewat lagi lewat lagi wkwk.

    Tapi yg terpenting sebelum memutuskan pergi liburan ke suatu tempat, maka harus sudah tau segala sesuatunya mulai dari penginapan, kuliner, dll. Oh iya terus jangan sampe kamera ketingggalan, bisa berabe ntr ga poto poto hehe.

  6. Jangan berangkat waktu lagi liburan! Itu sih yang selalu ada di pikiranku kalau mau liburan ke suatu tempat. Harga pasti bakal murah dan tempatnya sepi, instagrammable banget dah pasti.

    Dan bener banget, perlu untuk persiapan sedetail mungkin sebelum berlibur apalagi kita sobat misqueen, hehe

  7. Eyaampuun, plis jangan sampe jual organ manapun atuh, kesian doi jadi ikut nelangsa. 😀 agak2nya, akhir tahun ini memang sudah jadi dilema para hardworking mau liburan yg kayak gimana. Secara, selama ini tenaga dan pikiran cukup diperas demi menghidupi diri yekan, jadi pengennya yg auto wow bener2 bisa merestart semua kondisi badan biar fresh lagi. Tapi kalau mau hemat sih (teteup), harus pinter2 nyari promo, biar liburan kayak gimanapun bisa terealisasi.. Karena liburan sesugguhnya adalah obat luar biasa.

Leave a Reply to Muhammad Rifqi Saifudin Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.