Nulis sepertinya bukan kata yang tepat, dan supaya terlihat lebih jujur dan amatiran mungkin yang pantas adalah ngeblog. Oke, tepatnya sudah tiga bulan sejak artikel terakhir yang berjudul “Bisakah Sukses dari Kampus Swasta” saya publikasikan, dengan total pembaca hanya 34 dan 1 komentar rasanya bukanlah sesuatu yang perlu dibanggakan. Tapi wait, kira-kira lebih pantas pakai ‘Gue’ atau ‘Saya’ yah, tapi well, sebagai perantauan kata ‘Saya’ sepertinya lebih cocok.

Oke, lanjut..

Tiga bulan memang bukanlah waktu yang lama, jika dilalui begitu saja dengan pernuh ketidakpedulian. Waktu yang tadinya dikejar agar memberikan nilai yang berarti malah justru berlalu begitu saja dengan banyaknya kesibukan di tempat kerja.

Sejak bulan Mei saya memperoleh posisi baru, ternyata memberikan pengalaman yang berbeda dalam hidup saya. Memulai karir dengan bekerja shifting selama empat tahun, ternyata sangat berbeda dengan bekerja pada office hour, 8 – 17.

Itu membuat saya benar-benar harus menjalani kehidupan seperti orang normal lainnya. Eh tapi bukan berarti waktu shifting dulu, hidup saya tidak normal ya. Tapi kalau dipikir-pikir, itu terasa lebih normal dari kehidupan saya yang sekarang.

Bagaimana tidak, bekerja dengan sistem office hour, ternyata butuh tenaga ekstra apalagi bagi orang yang bekerja di jakarta. Kemacetan, rasa-rasanya mengambil 30% total tenaga setiap harinya.

Bayangkan, hanya dengan jarak kantor ke rumah 11 Km dari Halim ke TB Simatupang, paling tidak membutuhkan waktu tempuh selama satu jam perjalanan. Tentu hal yang tidak masuk akal jika dibandingkan dulu masih ngantor di Koja, jarak 25 Km, bisa ditempuh dengan waktu 45 menit saja.

Soal skill riding, jangan ditanya lah ya. Meskipun membatasi kecepatan dengan alasan safety driving. Skill tikung-menikung membuat saya bisa tiba lebih cepat. Tapi pendekatan ini tidak berlaku bagi rute yang sekarang, Halim ke TB Simatupang.

Rasa-rasanya saya lebih baik jalan kaki, dari pada harus membawa kendaraan. Karena toh nantinya sama saja, tiba di kantorpun bakal jam delapan juga meski berangkat lebih awal. Entah mengapa, berangkat jam 6 atau jam 7 bisa tiba di kantor hampir-hampir jam delapan lah pokoknya. It’s magic man!

Tiba di kantor, agenda utama saya pastilah mampir di warteg belakang kantor. Cukup dengan lauk ikan kembung goreng dan sayur bening saja bisa membantu menenangkan perut yang akustikan. Dan ini adalah agenda yang tidak boleh di ganggu gugat.

Sedari bocah, Ibu sudah membiasakan kami semua untuk selalu sarapan sebelum berangkat sekolah jadi ya “Ada yang hilang dari perasaanku…” – Ada yang Hilang, Ipank. 

Oke, setelah sarapan hari pun dimulai. Saya mulai menuju ke meja kerja. Nyalakan laptop, dan pergi ke pantry untuk mengambil potol minum dan mengisinya di dispenser dan kembali ke meja kerja.

Dari situ, saya pun memulai aktivitas rutin mulai meeting daily call operation, meeting BCP (Business Continuity Process), kerjain dokumen, laporan dan lain sebagainya. Dan pada tengah hari, makan siang, kembali ke meja kerja dan merenungi lalu lintas sampai jam 17 sore.

Merenungi lalu lintas, iya karena meja kerja saya berada di lantai 25. Maka dengan jelas saya pun bisa melihat lalu lintas terkini sepanjang jalan TB Simatupang. Jadi ya well, sebelum jam 17 biasanya saya sudah mengatur strategi bagaimana bisa pulang dengan cepat dengan kondisi yang terdesak macet-macetan.

Namun bagaimanapun skenario operations yang sering saya buat dalam operasional sehari-hari pada nyatanya tidak akan berfungsi untuk saya dalam mengatasi sulitnya masa-masa bermacet ria pulang jam kerja.

Meskipun jam pulang kerja jam 17.00, biasaya saya baru akan pulang di jam 17.30 atau bahkan di jam 20.00. Hal ini disebabkan banyak hal misalnya hujan, atau kondisi yang terlalu macet di jalanan. Ya jujur saja, dengan tas yang berat berisi laptop dan dan segala hal didalamya membuat saya malas untuk berhenti ditengah jalan hanya untuk sekedar mampir maghriban.

Makanya sering kali saya memutuskan pulang setelah maghrib, jam 18.30. Dan pasti sudah tahu kan kondisi jalanan di jam-jam itu? Macet PARAH. Iya, PARAH.

Pulang di jam-jam itu, rasanya tenaga hanya tersisa 20 – 30%. Pada kondisi itu sih, bukan lagi mengendarai motor. Tapi dorong motor.

Nah untuk perjalanan pulang di jam-jam sibuk seperti itu, biasanya memakan waktu hingga 1.30 jam. Dan ya, bisa dibilang rata-rata saya akan tiba di rumah pada jam 20.00 atau 21.00

Sekarang bisa dibayangkan dong bagaimana kondisi seseorang manusia biasa yang baru pulang di jam-jam ‘letoy’ seperti itu?

Nah itulah hal yang memang menjebak saya menjadi orang yang tidak produktif dalam hal ngeblog ataupun menulis. Karena memang, saya merasa sulit untuk menemukan life-pattern yang tepat untuk mencapai work-life-balance.

Karena memiliki libur di hari sabtu dan minggu, rasanya tetap saja masih kurang untuk membalaskan dendam memeras tenaga dan pikiran dari hari senin hingga selasa.

Hingga pada akhirnya, sore hari ini saya pun mulai menyadari satu hal. Jika saya tetap terperangkap pada posisi ini, maka lama kelamaan hal ini akan membuat saya menjadi sangat depresi ketika mencapai di titik jenuhnya nanti. Dan untuk menghindari hal itu, makanya saya pun memutuskan untuk mengatasinya, salah satunya dengan menulis artikel ini.

Saya ingin kembali lagi bersuara, menceritakan hal yang saya alami sehingga menjadi pembelajaran hidup bagi orang lain. Meskipun dalam blog ini, saya lebih sering berkeluh kesah, artinya orang bisa tahu hal apa yang saya alami dan bagaimana saya menghadapinya.

Dengan begitu, saya rasa orang tidak perlu merasakan hal yang sama dan bisa menghindari hal buruk yang saya alami bukan.

Karena kalau mengingat dulu, tidak ada satu orang pun yang pernah bercerita pada saya, bagaimana sulitnya merantau, cari kerja, survive sebagai lulusan kampus swasta, putus cinta, gagal tes tentara dan lain sebagainya.

Rasanya dengan berbagai atau ‘curhat’ di blog ini, bisa menjadi pelampiasan saya untuk sharing dengan orang lain, dan diri saya sendiri.

Karena dengan menulis, saya seperti bisa bicara dengan diri saya sendiri. Menceritakan permasalahan, dan rasanya jari-jari seperti langsung menuliskan apa yang tergaris diotak saya. Yang pada akhirnya pun membuat saya secara tidak langsung menjelaskan, apa hal yang terjadi, apa penyebabnya, apa dampaknya, dan apa solusi yang harus saya lakukan untuk mengatasi hal tersebut. Bahkan, pelajaran apa yang bisa saya ambil dari kebodohan atau kemalangan apa yang saya alami.

Jujur saja, utamanya blog ini saya buat pada 10 tahun lalu hanyalah menjadi media bagi saya sendiri untuk mawas diri, melihat kejadian yang terjadi dan belajar dari itu. Namun seiring dengan berkembangnya waktu, blog ini pun memiliki hal-hal lain.

Untuk mengikuti lomba, posting kegiatan event, jalan-jalan, dan lain sebagainya. Sehingga membuat saya pun terjebak. Terjebak untuk tidak memposting artikel sembarangan di blog ini. Dan pada akhirnya saya pun sadar, saya harus jujur dengan diri saya sendiri dan tidak membatasi apa yang saya posting di blog ini. Karena toh ini blog saya. Simple.

Nah, kalau tadi bisa dibilang alasan terbesar saya berhenti ngeblog adalah karena memang kelelahan habis bekerja, alasan kedua adalah ternyata sebagian besar tenaga saya habis dengan membagikan ‘cinta’ pada postingan orang lain di Instagram.

Rutinitas ini meski dicicl, hanya beberapa menit disetiap jamnya namun kalau dihitung-hitung bisa sampai 2 – 3 jam sehari. Yang mana dalam waktu seperti itu, kira-kira bisa menjadi 3 artikel jika dituangkan untuk ngeblog dengan rata-rata 500 kata.

Untuk alasan Instagram ini, sebenarnya sudah lama sekali saya sebutkan kepada pasangan saya. Saya ingin sekali uninstall Instagram karena alasan yang tidak produktif, tapi well, demi eksistensi di dunia nyata dan dunia maya. Dia pun melarangnya.

Yang pada akhirnya, berlarut-larut menyebabkan produktifitas saya pun menjadi nol dan saya mulai berada di titik jenuh dengan aktivitas padat dan minim refresing.

Meski pada setiap akhir pekan saya selalu menyempatkan untuk nonton di bioskop, rasa-rasanya hal itu tidaklah menyegarkan pikiran. Malah justru bikin atm makin lecet.

Bagaimana tidak, sekali nonton saya harus mengeluarkan budget sekitar 115ribu (In relationship – belinya 2 tiket, plus biaya layanan pesan tiket online lima ribu untuk dua tiket), belum lagi biaya makan malam dan lain sebagainya. Untuk seorang bujang, kegiatan seperti ini sangat boros. Paling tidak, setiap bulannya satu sampai dua juta, itu rasanya hilang entah kemana. Bahkan tidak masuk di catatan pengeluaran bulanan keterangannya untuk apa, tapi membuat atm berkurang.

Btw, ini bukan curhat tapi kisah nyata bagaimana strugglingnya saya berusaha produktif, tetap bisa “Work-Life-Balance” dengan banyaknya gangguan yang ada di zaman now ini.

Yang jelas, untuk kembali bisa menyeimbangkan hidup. Saya rasa kita perlu menganalisa hal apa sih yang kita alami, dimana menyebabnya dan apa yang bisa membuat kita menyelesaikan permasalahan itu dan buat hidup kita lebih baik lagi di masa yang akan datang. Dan dari sinilah saya memulainya kembali.

%d bloggers like this: