Beberapa bulan yang lalu, hiruk-pikuk ujian masuk perguruan tinggi atau yang umumnya dikenal sebagai SNMPTN, menjadi beberapa topik di twitter dan juga instagram. Banyak dari mereka yang berbagi kebahagiaan mengenai cerita susah payahnya masuk perguruan tinggi negeri dan lolos. Ada juga yang juga merasakan susahnya tes, namun bagian lolosnya enggak kebagian.

Dan sebelum para pembaca sekalian berasumsi terlalu tinggi. Sebelumnya saya mau menjelaskan, kalau saya adalah orang yang tidak pernah merasakan hal itu, sekalipun. Karena memang dari dulu, saya sudah berasumsi bahwa kuliah di kampus negeri atau swasta itu sama saja. Yang bikin beda, ya hanya soal tenaga pendidik, dan fasilitas pendidikan saja.

Oke well, saya ada sedikit cerita tentang lulusan negeri dan swasta.

Dalam segi pergaulan, memang bagi mereka yang berasal dari lulusan negeri, pastilah memiliki gengsi tersendiri. Dimana sering kali banyak orang berasumsi derajat atau kastanya lebih tinggi dari mereka yang berasal dari kampus swasta.

Dan bahkan, tidak banyak juga yang lulusan swasta juga memposisikan dirinya berada lebih rendah dari mereka yang lulusan swasta. Kira-kira Anda sependapat?

Kalau boleh dibuat sebuah daftar, apa sih yang membedakan kuliah di kampus negeri dan swasta?

  • Kualitas dosen
  • Kualitas fasilitas pendidikan
  • Ikatan yang erat antar alumni
  • Ketersediaan beasiswa pendidikan
  • dll….

Banyak sih, tapi well emang begitu adanya. Nah pada kesempatan kali ini saya akan sedikit share tentang dunia yang saya lalui, dengan background seorang lulusan kampus swasta di Jakarta.

Akhir 2014 lalu, saya mengakhiri masa pendidikan saya kuliah di Universitas Borobudur Jakarta. Pada sebulan setelahnya saya pun diterima di tempat saya bekerja sekarang, PT Shell Indonesia.

Dengan basic seorang sarjana komputer, saya pun mendapat posisi yang memang benar-benar jauh dari background pendidikan saya. Saya mendapat posisi sebagai terminal operator dispatcher pada divisi Trading and Supply. Tanggung jawab saya adalah terhadap pelaksanaan supply bbm dari depot/terminal ke SPBU Shell di wilayah Jabodetabek dan Bandung.

Seperti yang dulu diasumsikan manusia awam pada umumnya, sebagai karyawan baru dengan background kampus swasta. Membuat saya minder dengan rekan kerja yang lain. Apalagi kalau tahu ada yang lulusan kampus di luar negeri. Makin merasa sebagai “Siapa sih elo?” Pikiran seperti itu selalu menghantui saya dalam setiap kesempatan berjumpa dengan mereka.

Sedikit gambaran tentang lingkungan kerja. Di lingkungan saya bekerja, banyak dari mereka yang bertanggung jawab dalam urusan administrasi, planning, system, sampai hal yang rumit seperti teknikal atau engineering. Dan dari background mereka, ada juga yang berasal dari kampus swasta, negeri bahkan lulusan kampus luar negeri.

Disini kalau dilihat dari helicopter-view, bisa dibilang tidak peduli dari mana kamu berasal. Yang paling penting sih menurut saya pertanyaannya “Kamu bisa apa?

Beruntungnya, di tempat saya bekerja. Lingkungan yang ada memang benar-benar mendukung kita untuk terus meningkatkan kemampuan diri. Saya pernah dengar beberapa kalimat seperti “Apa yang kamu pelajari di kampus itu hanya 20% bisa diaplikasikan di dunia kerja“, Saya rasa rekan-rekan pun pernah mendengarnya, dan saya sudah membuktikannya.

Jadi memang, apa yang saya pelajari di kampus itu hanya sebagian kecil yang dapat digunakan di dunia pekerjaan. Karena, improvement sebenarnya adalah di tempat kerja itu sendiri.

Bahkan, tidak sedikit hal lucu yang saya temukan di lingkungan tempat saya bekerja. Yaitu, mereka yang bekerja itu banyak posisinya tidak sesuai dengan background pendidikannya.

Misalnya ada salah satu rekan seorang analisis kualitas produk, yang berurusan dengan sampling produk, analisa kualitas dan terkadang melakukan hal-hal teknis dalam pemuatan dan pembongkaran kapal. Ternyata dia adalah seorang lulusan sastra jepang.

Ada lagi misalnya, seorang rekan yang dalam sehari-harinya mengurus tentang keselamatan armada, inspeksi standar peralatan, survey rute perjalanan yang merupakan seorang lulusan akuntansi. Jauh dari apa yang dikerjakan.

Hingga saya pun menyadari, bahwa ini adalah hal yang wajar dan umum terjadi yaitu tidak bekerja sesuai bidangnya. Tapi apakah itu sebuah kesalahan? Saya kira bukan. Karena semua kembali lagi pada kesempatan yang ada di saat orang tersebut memanfaatkannya.

Kalau boleh sedikit mengenang, dulu saya tidak pernah bercita-cita menjadi karyawan di perusahaan migas multinasional. Namun, ketika saya mendapat kesempatan saya pun memanfaatkannya dengan maksimal hingga saat ini. Dimana saya sudah mengabdi selama 4 tahun belakang ini. Dan alhamdulillah, saya pun merasa ini bukan suatu kesalahan, namun kesempatan.

Semua kembali lagi, bahwa ini realita.

Bekerja di tempat yang sesuai dengan bidang akademis kita, mungkin luar biasa. Namun bekerja di tempat yang tidak sesuai dengan latar belakang kita, itu bukan sebuah kesalahan.

Nah, sekarang kita kembali ke judul artikel ini dibuat. Mengenai sukses dari kampus swasta.

Kalau menurut saya, kesuksesan seseorang bukanlah ditentukan dimana kampus tempat seseorang menuntut ilmu. Kampus dengan label negeri, hanya memberikan  sedikit kemudahan. Ingat, sedikit.

Misalnya saja ada lowongan yang mengharuskan lulusannya berasal dari kampus terakrediasi A. Namun, yang perlu kamu sadari sekarang adalah. Di dunia teknologi, hal seperti itu sudah ketinggalan zaman.

Kita hidup di mana, kemampuan adalah hal yang perlu diutamakan. Meskipun kamu lulusan swasta, itu bukanlah akhir dari segalanya. Bukanlah menjadi penghalang bagi kamu untuk memperoleh posisi bagus di tempat kamu bekerja. Malah, harus menjadi motivasi kamu untuk terus belajar dan belajar mengembangkan diri agar bisa sama bahkan lebih baik dari mereka yang lulusan negeri atau luar negeri.

Kita hidup di masa teknologi, yang juga selalu mengaplikasikan proses eliminasi. Bagi mereka yang tidak bisa terus meningkatkan diri, jangan salahkan kalau tereliminasi. Itu fakta.

Hingga saat ini, alhamdulillah. Dengan background kampus swasta, dalam proses 4 tahun saya masih bisa memperoleh kesempatan untuk promosi jabatan lebih tinggi bersaing dengan senior dan juga mereka yang berasal dari kampus negeri tentunya.

Jadi, memang kuliah di kampus negeri bagus. Tapi kuliah di kampus swasta pun bukan suatu kesalahan. Itu justru dapat menjadi kesempatan bagus menjadi motivasi bagi kita untuk terus belajar meningkatkan diri, bahkan dengan fasilitas yang minim sekalipun.

Dam sebelum Anda berada di sebuah asumsi yang salah. Yang ingin saya garis bawahi disini adalah. Indikator sukses setiap orang itu berbeda. Dan jangan pernah membuatnya menjadi rendah, karena hanya dikonontasikan sebagai materi.

Kesuksesan seseorang itu bermacam-macam. Misalnya saja, sukses memperoleh karyawan. Sukses mendidik anak. Sukses menyekolahkan adik hingga sarjana dan lain sebagainya. Dan materi itu hanya bonus dari kerja keras yang Anda lakukan dalam beberapa periode waktu.

Kuliah di kampus swasta, bukan kesalahan. Dan meskipun berkuliah di kampus swasta, bisa memberikan peluang untuk Anda meraih kesuksesan dalam karir dan juga yang lainnya.

Kita hidup di zaman teknologi, dimana kemampuan adalah hal yang harus diutamakan. Bersaing sehat, dengan kemampuan karena korupsi, kolusi dan nepotisme dalam meraih karir dan lain sebagainya bukanlah hal yang bisa bertahan lama.

Banggalah bagi mereka yang bisa berdiri di kaki sendiri.