Kemarin tepatnya pada tanggal 2 Juni 2018, merupakan awal baru dalam fase akademis yang saya tempuh. Karena, pada akhirnya judul tesis yang akan saya jadikan sebagai penelitian akhirnya di setujui oleh Kaprodi dan dapat dilanjutkan ke proses penelitian atau riset.

Kalau di tarik ke belakang, Juni sebenarnya waktu yang cukup lama sejak beberapa rekan lain telah mengajukan mulai bulan April dan baru menerima approval atau perestujuan barulah di bulan Mei.

Berbeda dengan saya kemarin, baru saja mengajukan dengan proses presentasi judul pada seminar proposal yang langsung di setujui oleh Kaprodi.

Sebenarnya, salah satu alasan saya mengapa menunda begitu lama, karena memang saya berprinsip “One hit, One Goal” Maksudnya adalah, dengan mengajukan satu kali proses, langsung di terima tanpa perlu revisi sana sini, dan memperbaiki hal-hal yang terlalu mendasar/fundamental.

Kalau mau tau ceritanya, sebenarnya mulai April hingga Juni kemarin, saya selalu mencoba menganalisa setiap requirement yang diinginkan oleh Kaprodi. Maklum saja, sebagai Profesor bidang elektro lulusan Jerman, keinginan Kaprodi juga terbilang tinggi.

Banyak dari rekan kuliah yang sampai putus asa untuk melanjutkan proses tesis karena menurut mereka, permintaan sang Profesor terlampau sulit.

Namun, dalam proses itu saya percaya. Banyak senior yang sudah lulus, itu artinya bahwa sesungguhnya tantangan sesulit apapun bisa dilalui. Yang perlu saya ketahui adalah, seperti apa sih research requirement yang diinginkan sang Profesor, dan hal-hal apa saja yang perlu saya kerjakan untuk mencapai ekspektasi sang Profesor terhadap rencana riset saya. Dan akhirnya, semua pertanyaan itu terjawab kemarin.

* * *

Jadi sebenarnya, mulai April 2018 banyak sekali rekan yang mulai memberanikan diri, uji nyali mengajukan rencana riset melalui seminar proposal tanpa persiapan yang matang.

Artinya sama sekali belum mempelajari standar requirement yang diinginkan oleh sang Profesor. Yang mana akhirnya, ajang presentasi menjadi ajang ‘pembantaian’ mengapa saya bilang begitu? Karena banyak sekali rekan yang dengan sangat percaya diri presentasi konsep dan ide penelitiannya, namun pada akhirnya berujung pada komentar “Ini kerjaan SMP mas, Ini kerjaan SMA mas, Ini kerjaan D3 mas, Ini kerjaan S1 mas“.

Kira-kira, kalau Anda yang punya ide setinggi langit, tiba-tiba ide Anda dibilang seperti itu. Apa yang Anda rasakan?

Kecewa, marah, kesal, dongkol dan pasti akan kehilangan semangat untuk melanjutkan tesis, bahkan kuliah.

Hal ini terjadi pada beberapa rekan di kelas. Dan hal tersebut tidak hanya berlaku oleh mahasiswa yang boleh dibilang masih muda. Banyak juga dari rekan mahasiswa yang sudah berstatus sebagai guru fisika, bahkan sampai berkata pada saya seperti ini setelah dia gagal memenuhi standar requirement sang Profesor.

Saya gak lanjut tesis gak masalah mas, saya bakalan tetap naik jabatan kok

Lantas saya mencoba menanggapi secara bijak, meski beliau jauh lebih tua usianya dari saya. Saya mencoba membantu, memberikan solusi terhadap kekurangan dari ide yang dimiliki sayng pak guru.

Lanjut lagi kenapa judul tesis saya diterima.

Sebenarnya, saya bukan orang yang terlalu expert pada bidang studi yang saya tempuh saat ini, ICT Network Security. Namun, alhamdulillah saya sudah terbiasa membaca konten bermuatan bahasa inggris jadi hal tersebut sangat memudahkan saya untuk menyelesaikan satu permintaan sang Profesor. Banyak baca jurnal/penelitian Internasional.

Jadi, dengan berbekal sedikit kemampuan itu ternyata sangat membantu saya. Seperti yang sudah pernah saya bahas pada tulisan sebelumnya yaitu Perbedaan Tesis dan Skripsi Dalam Ilmu Pengetahuan, dimana salah satu syarat yang perlu kita pahami sebelum melakukan riset adalah kita harus paham apa itu perbedaan dari masing-masing karya tulis ilmiah.

Nah bicara soal standart requirement sebuah tesis, hal yang umumnya ditekankan oleh sang profesor yaitu Metode dan juga Algoritma.

Karena sebagai seorang akademis pada biang STEM (Science Technology Engineering Mathematics) Hal yang harus kita berikan/kontribusikan pada science/ilmu pengetahuan adalah terletak pada pengembangan teori.

Jadi karya tulis seorang Magister/Master terletak pada pengembangan Metode serta Algoritma yang ada, sehingga konsep permasalahan dapat diselesaikan dengan menyediakan solusi yang paling baik. Itu adalah tujuan tesis.

Hal terpenting yang harus dipahami oleh mereka yang berencana melanjutkan studi tingkat Magister atau mahasiswa yang akan menyelesaikan tesis. Sudah wajib memahami bahwa seorang mahasiswa magister bukanlah seorang mahasiswa D3 yang merangkai alat, atau seorang mahasiswa S1 yang mengembangkan atau berinovasi terhadap sistem, atau bahkan mahasiswa S3 yang harus menciptakan sesuatu yang baru.

Seorang mahasiswa S2 hanya diminta menyelesaikan sebuah permasalahan yang umumnya dihadapi oleh orang banyak dengan mengeksplorasi metode serta algoritma yang ada, selanjutnya melakukan pengukuran, pengujian dan analisa terhadap pengujian dari metode dan algoritma yang diusulkan.

Belajar dari kesalahan rekan

Memang benar adanya, bahwa pengalaman itu bisa didapatkan dari kejadian yang kita alami sendiri atau bahkan juga bisa dengan kita mendengar dan melihat kejadian yang dialami oleh orang lain.

Umumnnya, pada sebuah sidang proposal. Selain yang akan presentasi riset, mahasiswa lain pun diperkenankan untuk menyaksikan sang calon peneliti untuk memaparkan proposal riset yang dimiliki. Disitulah merupakan kesempatan emas, untuk ktia mengatahui bagaimana sih standart requirement agar judul tesis diterima, hal-hal yang tidak boleh ada, atau hal-hal yang wajib ada dalam proposal penelitian yang akan kita kerjakan.

Untuk saya sendiri, setidaknya saya butuh waktu 2 bulan untuk mempelajarinya. Selain mempelajari saya pun mencoba menyusun namun sengaja tidak langsung mengajukan, karena saya butuh kepastian berdasarkan self-assessment apakah judul ini nanti akan langsung diterima.

Sehingga selama kurun waktu tersebut, saya memperhatikan satu persatu teman-teman yang dibantai maupun dipuji oleh sang kaprodi.

Mereka yang dibantai, umumnya mengajukan judul penelitian seperti ini :

1. Mengajukan judul penelitian yang sudah solved

Banyak mahasiswa yang ternyata masih berasumsi bahwa proposal riset magister itu sama dengan skripsi yang dikerjakan pada saat S1 dimana melakukan riset yang fokus pengembangan sistem di tempat lain dab berfokus pada masalah yang ada di tempat mereka tinggal atau bekerja. Contohnya : Network Traffic Analysis pada Store PT. Alfa ***

Dengan judul itu, Profesor pun berkomentar bahwa hal tersebut tidak spesifik. Masalah yang diberikan tidak jelas letaknya dimana dan mungkin sudah diselesaikan oleh orang lain. dan sebaiknya jangan berfokus pada objek tempat. Karena itu bukan masalah orang banyak.

2. Mengajukan judul penelitian pada masalah yang umumnya sudah diteliti orang lain

Mengajukan judul riset yang sudah dilakukan di tempat lain dan hanya berfokus pengembangan alat yang digunakan serta teknologi yang digunakan. Contohnya : Sensor Pendeteksian Maling di Rumah Menggunakan Raspberry Pi

Dengan judul itu, Profesor berkomentar bahwa judul itu hanya pantas untuk seorang mahasiswa D3, bahkan mungkin karya tulis siswa SMK. Tidak pantas untuk seorang mahasiswa Magister.

Untuk yang ini, jujur dari pengamatan saya sendiri pada awal rekan tersebut presentasi, saya sangat apresiasi karena nampak dari cara menjelaskan bahwa dia sudah terbiasa ‘ngoprek’ alat tersebut. Apalagi dengan background seorang karyawan bidang RnD atau (Research and Development) di salah satu kantor swasta di Jakarta.

Tapi ternyata kemampuan ‘ngoprek’ pun kurang untuk menyelesaikan sebuah tesis.

3. Mengajukan judul penelitian yang terlalu umum dan terlalu besar.

Contohnya : Network Management Palapa Ring Barat.

Dari sini saja, kita sudah bisa menilai bahwa rencana penelitian ini memang adalah kapasitas seorang Menteri yang dibantu oleh Kementeriannya. Dan agak kurang tepat untuk diselesaikan oleh seorang mahasiswa seorang diri.

Kalau dibilang bisa sih bisa dislesaikan. Tapi tentu tidak dalam kurun waktu 6 bulan. Karena itu batas waktu melakukan riset untuk tesis.

Dan saya raya kalian tidak perlu tahu apa pendapat Profesor, karena itu sangat pedih.

4. Berorientasi pada ‘Produksi Masal’

Ini adalah salah satu kesalahan fatal yang dilakukan pada saat presentasi proposal penelitian tesis. Dimana berorientasi untuk produksi masal karena merasa dapat ‘ngoprek’ satu alat tertentu tanpa memiliki metode/algoritma/pendekatan untuk menyelesaika sebuah permasalahan.

Karena sesungguhnya, tugas seorang magister bukanlah untuk produksi masal. Produksi masalah adalah tugas dari corporate seperti Samsung, Nokia, dan lain sebagainya.

Jadi memang, butuh kesadaran diri yang tinggi mengetahui apa sih porsi dari seorang mahasiswa magsiter untuk berkontribusi di ilmu pengetahuan yang sedang di tempuh.

Kesimpulan

Jadi buat rekan-rekan yang mau melanjutkan studi S2, atau akan melaksanakan penelitian tesis. Kudu dan wajib banget memahami beberapa hal-hal diatas ya.

Yang terpenting dalam penelitian seorang magister bukan terletak pada berhasil ngoprek alat, tapi bagaimana mensolusikan sebuah permasalahan yang umumnya dihadapi oleh banyak orang atau semua orang dengan mengajukan metode atau algoritma yang bisa saja milik orang lain tapi dapat kita modifikasi pada beberapa bagian misalnya.

%d bloggers like this: