Beberapa tahun lalu, ketika itu baru menginjakkan kaki di Jakarta saya merasa menjadi orang yang beruntung untuk mengenal salah satu unit kegiatan mahasiswa yang ada di kampus saya dulu.

Karena, di organisasi itulah saya belajar banyak hal tentang apa arti hidup, bagaimana cara menghargai orang lain serta yang paling penting adalah tentang leadership atau kepemimpinan.

Jika mengingat masa itu, dimana pada organisasi saya berkesempatan untuk menduduki jabatan sebagai Danpokpas (Komandan Kelompok Pasukan) saya bertanggung jawab kepada 12 orang, perihal semua hal tentang keorganisasian termasuk misalnya koordinasi, komunikasi dan juga sebagai penghubung terhadap pimpinan.

Ketika masa itu, saya mulai belajar tentang apa itu kepemimpinan. Dan masih teringat betul oleh saya ketika itu, saya sering sekali membaca tentang bagaimana kepemimpinan efektif agar para anggota yang berada di bawah komando saya bisa ikut dan patuh dengan apa yang saya minta atau perintahkan.

Dan salah satu tipe kepemimpinan yang mulai saya aplikasikan ketika itu adalah tipe kepemimpinan otoriter atau lebih tepatnya militeristik. Dimana dengan tipe kepemimpinan seperti itu, sifatnya adalah sang pemimpin memegang kendali penuh dan hanya bersifat komunikasi satu arah.

Namun seiring berjalannya waktu, sikap saya dengan mengapliaksikan teknik kepemimpinan itu ternyata tidak disenangi oleh beberapa rekan saya (rasanya hampir semua sih). Mereka berpikir kalau ketika itu saya terlalu ‘lebay’

Mendapat respon yang negatif seperti itu, akhirnya saya pun kembali lagi belajar, kira-kira seperti apa sih model kepemimpinan efektif. Maka percobaan saya berlanjut dengan mengaplikasikan model kepemimpinan yang lembek atau yang yaaa terserah elu sih mau bagaimana.

Dan hasil dari mengapliaksikan kepemimpinan jenis itu, berakhir dengan berantakannya proses kepemimpinan yang seharusnya terjadi. Para anggota semakin malas-malasan, semakin sulit diatur dan ya sering sekali menggampangkan setiap perintah yang saya berikan.

Pada kondisi itu, saya sejujurnya merasa kesal dan bingung harus seperti apa bersikap kepada rekan-rekan atau anggota saya itu. Dan ternyata ketika itu, tidak hanya saya saja yang merasakan pusing bukan main, ternyata pimpinan organisasi saya pun juga pada akhirnya memberikan saya sanksi karena lalai menjalankan tugas karena tidak bisa mengendalikan anggota yang ada dalam komando saya.

Saya pun coba menganalisa letak kesalahan saya ketika itu. Mulai dari dengan bersikap keras sampai bersikap lembut yang mencoba sok dekat kepada anggota tapi juga malah membuat mereka kelewatan ngentenginnya.

Hingga akhirnya saya menyadari, bahwa memang kepemimpinan yang saya pelajari bukanlah sebuah aturan biner tentang 0 dan 1. Dan jika merujuk pada teori kepemimpinan

Kepemimpinan adalah seni mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan organisasi.

Yang perlu saya garis bawahi adalah kata seni. Jadi memang, menjadi seorang pemimpin itu bukanlah tentang suatu aturan, tapi tentang sebuah cara bagaimana kita bisa mempengaruhi orang lain untuk dapat melakukan apa yang kita inginkan.

Dan seiring berjalannya waktu, saya pun memahami bahwa kepemimpinan itu tentang proses yang tidak instan bisa kita dapatkan hanya dalam satu atau dua kali proses.

Yang jelas, selama kurang lebih waktu empat tahun berada di organisasi itu, saya membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mendapatkan hati para anggota, agar mereka mau mengikuti aturan main yang saya buat demi berjalannya organisasi.

Tidak jarang saya sering menyisihkan uang jajan yang saya miliki ketika itu, untuk membantu anggota yang sedang kesulitan, atau tidak jarang saya harus memaksakan diri untuk mengerjakan hal yang diminta oleh anggota meskipun saya dalam waktu yang tidak memungkinkan untuk melakukannya.

Juga bahkan saya sering memperoleh penolakan, meskipun telah banyak hal yang saya lakukan untuk mereka.

Dan yang saya pahami adalah, itu semua adalah proses.

Tidak semua proses selalu memperoleh hasil yang baik. Namun yang perlu kita ketahui, bahwa dengan tidak memperoleh hasil yang baik, haruslah menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki proses yang ada. Bukan malah menyalahkan objek yang menjadi tujuan proses itu sendiri.

Kepemimpinan itu tentang seni, proses, hati dan orang.