Meskipun motivasi merupakan hal yang paling dibutuhkan oleh seseorang dalam mencapai kesuksesannya, nyatanya motivasi saja belum cukup. Motivasi itu hanya bisa menjadi alasan awal untuk kakimu melangkah, namun tidak ketika kamu hampir menyelesaikan apa yang telah kamu mulai.

Berdasarkan pengalaman pribadi, motivasi sering saya dapatkan ketika selesai nonton film di bioskop, hal ini paling sering saya lakukan ketika saya merasa bahwa otak saya benar-benar stres dengan berbagai macam aktivitas yang memenuhi otak saya.

Namun nyatanya, hal ini mungkin hanya bisa bertahan dan mengembalikan saya pada jalur pekerjaan hanya dalam waktu satu sampai dua jam saja. Berikutnya, saya pun lebih memilih untuk membiarkan semuanya berlalu dan lebih memilih untuk tidur.

Hingga pada suatu saat saya merasa, bahwa ada sesuatu yang salah dengan cara saya dalam me-manage motivasi saya ini.

* * *

Sedikit ingin bercerita, dulu saya pernah benar-benar kehilangan motivasi saya bukan saja untuk bekerja. Namun untuk hidup. Kegagalan ketika saya mengikuti salah satu seleksi masuk prajurit pada tahun 2015, padahal ketika itu saya merasa sudah tinggal selangkah lagi namun berakhir pada kegagalan. Saat itu adalah saat tergelap dalam hidup dan saya rasanya tidak memiliki hal yang bisa menyelamatkan saya dari perasaan gagal tersebut.

Saya terus berusaha, mencari cara memotivasi diri saya dengan melakukan berbagai macam hal seperti misalnya sibuk bekerja, berkomunitas, melanjutkan hobi blogging yang pernah saya miliki, atau bahkan sibuk mengembangkan bisnis freelancing yang saya miliki.

Namun semua hal itu, hanya mengalihkan diri saya untuk sesaat, dan setelahnya saya tetap merasa pada jalur yang begitu kelam dan merasa lelah atas semua hal yang saya lakukan.

Hingga pada akhirnya saya pun mencoba menerima kenyataan, bagi seorang muslim hal tersebut dikenal dengan sebutan “Ikhlas”. Ikhlas itu memiliki makna yang begitu besar dan juga dalam.

Saya pernah mendengar dari salah seorang senior yang telah lebih dahulu berpulang, beliau pernah mengatakan bahwa “Ikhlas itu belajarnya seumur hidup“. Dan itu benar-benar menjadi pedoman saya saat ini.

Kita adalah apa yang kita lakukan berulang kali. Keagungan kemudian, bukanlah sebuah tindakan, tapi sebuah kebiasaan. “- Aristoteles

* * *

Kembali ke masalah motivasi, dengan keadaan saya yang begitu jatuh, saya pun pada akhirnya mencoba untuk mengikhlaskan tentang hal buruk yang saya alami.

Karena, terus terjerumus dengan kisah kegagalan, pada akhirnya tidak akan membuat hidup saya lebih baik, malah akan membuatnya menjadi lebih buruk.

Mungkin, kamu juga punya cerita gagalan versimu sendiri. Yang bisa saya sampaikan, hentikan semua usahamu untuk mengalihkan pikiran serta dirimu dari kegagalan tersebut, dan mulailah menerima yang sudah terjadi dan biarkan itu menjadi cerita perjalanan yang Tuhan berikan padamu.

Sampai disini mungkin kita sudah bisa mengetahui, bahwa motivasi saja tidak dapat membuat orang tiba pada garis finish.

Jika boleh mengambil perumpamaan dalam sebuah event lari, motivasi adalah penyebab kamu mengikuti dan melangkahkan kaki melewati jalur start. Namun itu hanya dapat membuatmu bertahan pada kilometer pertama hingga kedua saja.

Untuk dapat tiba sampai di garis finish, motivasi saja tidaklah cukup. Kamu juga perlu untuk ‘memaksakan’ diri untuk melangkahkan kaki, mengayunkan tangan, dan berusaha mengantur nafas dengan tenang dan teratur agar dapat mengendalikan energi yang dibutuhkan dalam menyelesaikan race hingga tiba di garis finish.

Begitu pula dalam kehidupan yang kamu jalani ini.

Motivasi hanyalah awal kamu dalam memulai suatu hal, namun ketika kamu berada dalam masalah, kamu butuh untuk ‘memaksakan‘ dirimu untuk dapat keluar dari masalah dan meraih apa yang kamu inginkan.

Karena kamu yang paling tahu tentang dirimu, dan apa yang terbaik bagi Anda tentunya. Sehingga, dengan tetap memaksakan diri menyelesaikan apa yang kamu hadapi, hal tersebut dapat menjadi alasan kamu tiba di garis akhir, pencapaian yang kamu inginkan.

 

%d bloggers like this: