Oktober 2014, merupakan waktu dimana saya mulai memasuki dunia yang disebut katanya sebagai dunia yang kejam, apalagi kalau bukan dunia kerja.

Memilih untuk berkarir di Jakarta, sama sekali tidak pernah terpikir oleh seorang anak kecil yang lahir di pedalaman kota Wamena, Papua.

Namun, tenyata Tuhan berkehendak lain. Semua mengalir begitu saja. Semua dimulai dengan petualangan merantau ke Jakarta yang dilanjutkan dengan memulai  berkarir di perusahaan minyak swasta asal Belanda.

* * *

Beberapa bulan awal bekerja, kata nyaman sungguh benar jauh dari suasana kantor. Pekerjaan baru dengan bidang baru di dalamnya, sungguh tak terbayangkan oleh saya sebelumnya.

Latihan dan tempaan yang saya dapatkan di dunia Resimen Mahasiswa yang memang saya gunakan untuk mempersiapkan diri saya untuk memasuki dunia kerja, nyatanya hanya separuhnya berfungsi membuat mental saya bisa menghadapi semua tekanan.

Selebihnya saya perlu untuk improvisasi bahkan selalu berusaha membuat diri saya tenang dalam menghadapi setiap kesulitan yang saya hadapi hari demi hari.

Kesulitan yang saya maksud tentu bukan hanya soal pekerjaan yang bidangnya jauh dari bidang yang saya tekuni selama masa studi sarjana, namun juga tentang orang-orang yang ada didalamnya.

Sedikit gambaran, tempat saya bekerja hanya diisi oleh sedikit tim tidak lebih dari 20 orang. Namun, tentu saja setiap karakter didalamnya memerlukan teknik yang tepat dalam usaha menjalin relasi juga komunikasi. Setidaknya hal itu berfungsi untuk membangun suasana komunikasi yang nyaman yang bisa membuat kita betah bekerja setiap harinya.

Mengapa demikian, karena dalam bekerja tentu saja selalu ada masalah dan konflik didalamnya. Dengan berusaha mencegah terjadinya permasalahan tambahan seperti konflik bersama rekan kerja, tentu akan sedikit mengurangi beban yang akan kita hadapi setiap harinya.

* * *

Dalam beberapa kesempatan berjumpa dengan rekan sealmamater, meski yang berkumpul adalah para pria, sering kali momen tersebut digunakan untuk saling meluapkan emosi (baca : curhat), serta kekesalan tentang apa yang terjadi di lingkungan kerja.

Dan ketika saya memperhatikan kawan saya satu-persatu, hal tersebut pun membuat saya sadar bahwa tempat saya bekerja tidak sepenuhnya buruk jika di banding dengan lingkungan kerja teman yang lainnya.

Teringat salah satu seorang teman yang bercerita, di tempatnya bekerja di perusahaan telekomunikasi. Diakuinya bahwa tempatnya bekerja membutuhkan fokus yang begitu tinggi, karena berhubungan dengan layanan kualitas jaringan komunikasi.

Namun dengan intensnya pekerjaan, lingkungan kerja pun menjadi sangat tegang. Untuk bercanda di setiap menitnya, sungguh dirasa sangat menyita waktu. Hal tersebut juga diperparah, dengan perilaku salah satu dan beberapa rekan karyawan yang merasa senior dan bertindak terlalu seperti bos meski memang berada pada derajat yang sama yaitu ‘staf’.

Hal itu membuat dirinya menjadi sangat tidak betah, meskipun diakui dirinya bahwa perilaku pimpinan sangat baik dan sangat memotivasi dirinya. Namun jika dia mengingat perilaku rekan yang sok senior, ternyata membuatnya sangat membenci saat dimana dirinya bekerja.

* * *

Kisah tersebut diatas, hanya kisah seorang rekan. Dan masih banyak lagi kisah yang lain yang diceritakan tentang bagaimana kondisi lingkungan kerja yang mereka hadapi, dimana sering sekalimembuat rekan-rekan saya itu tidak betah dan justru memilih keluar dari tempatnya bekerja. Mereka beralasan masih banyak tempat kerja lain yang lebih nyaman dan mengapa harus tetap diam di satu tempat yang menyebalkan begitu.

Disini jika dinilai sesaat hal tersebut memang hampir benar. Untuk apa kita diam pada satu tempat yang membuat kita tidak nyaman sementara banyak tempat lain yang bisa memberikan kita banyak hal.

Namun pertanyaan berikutnya apakah kita yakin, bahwa tempat  kerja kita yang baru yang kita yang akan tempati nantinya dapat memberikan kenyamanan yang lebih baik, dan bukan justru lebih parah dari tempat kerja kita yang sebelumnya? Sesungguhnya kita pun tidak pernah tahu.

Satu hal yang bisa kita lakukan mulai saat ini tentu saja selalu berusaha menciptakan linkungan tempat kita bekerja menjadi nyaman, seperti apa yang kita harapkan.

Jika memang, ada satu hal yang membuat hari kita merasa buruk di kantor tersebut, kita masih punya beberapa hal lain yang bisa menjadi alasan kita untuk merasa nyaman dan bersyukur di tempat dimana kita bekerja.

Dan sejujurnya, tempat kerja saya sebenarnya pun juga tidak sempurna. Banyak kekurangan dalam beberapa aspek, yang jika dibandingkan dengan pekerjaan lain.

Tapi saya selalu berpikir, bahwa masih banyak tempat kerja lain yang lebih buruk. Salah satu perbandingan mudah yang dapat saya ambil adalah membandingkan cerita teman saya yang bekerja di perusahaan telekomunikasi tadi misalnya.

* * *

Ketika kita diterima di tempat kerja baru, kita tidak pernah tahu dengan siapa kita akan bekerja. Dengan siapa saja kita yang berkomunikasi dan menjalin relasi sebagai rekan kerja.

Hal yang bisa kita lakukan adalah berusaha beradaptasi dengan lingkungan dan bukan berharap lingkungan yang beradaptasi dengan lingkungan kita.

Berusaha mencari tempat yang nyaman untuk kita, itu tidak akan pernah ada bahkan ketika kita berharap bekerja di tempat yang kita inginkan sekalipun.

Hal yang bisa kita kerjakan, adalah berusaha membuat tempat dimana kita bekerja, menjadi tempat paling nyaman yang pernah ada.

Bermasalah dengan satu orang teman, sungguh itu biasa. Kita masih punya segudang alasan untuk terus dapat bersemangat bekerja salah satu contoh misanya karena kita memiliki pimpinan yang sangat peduli dan mendukung kita dalam pekerjaan dan juga karir misalnya.

Satu hal yang perlu kita tanamkan adalah, tetap dan selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki. Berusaha membuatnya nyaman bahkan jika memang hanya dengan menambahkan foto keluarga atau orang tercinta di meja kerja kita sekalipun.

%d bloggers like this: